Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Jangan Main-Main dengan Perempuan!

Cerpen Lan Fang

Malam ini aku sungguh terkejut ketika melihat perempuanku berdiri di depanku. Ia bebas!
"Apa yang kau tulis? Apa kau menulis tentang perempuan lagi?" mendadak saja ia sudah mendelik di depanku.
"Kenapa?" tanyaku acuh tak acuh dengan rasa tidak senang.

Menurutku apa yang akan aku tulis adalah urusanku sendiri. Karena apa yang akan aku tuangkan dalam kata-kata adalah apa yang ada di dalam otak dan kepalaku! Jadi bukan wewenang perempuanku untuk melakukan intervensi terhadap apa yang akan aku tulis.

Jujur saja, aku tidak suka dengan kehadirannya di saat aku menulis. Ia selalu mengusikku dengan segala kenyinyirannya sehingga apa yang aku tulis tidak murni dari jari-jemariku sendiri.

Karena ketidaksukaanku itulah, maka ia kupasung selama lima tahun!
Lima tahun yang lalu, bibirnya yang indah kujahit, gigi geliginya kucabut, dan lidahnya kupotong. Lalu bibirnya yang indah itu, gigi geliginya, dan lidahnya, kusimpan di dalam toples yang berisi air keras. Kuawetkan di dalam toples itu! Tidak hanya itu! Kalau boleh aku meminjam istilah Agatha Christie ketika menggambarkan otak Hercule Poirot adalah "sel-sel kelabu"-nya dan semangatnya kukunci di dalam gudang gelap. Dan rongga matanya yang kerap kali mengeluarkan butir-butir air mata, aku cungkili lalu kubekukan di dalam frezer.

Sehingga dalam lima tahun terakhir ini, perempuanku tidak bisa berkata-kata, tidak mempunyai semangat karena sel-sel kelabu di kepalanya tidak berjalan normal, dan tidak bisa mengeluarkan air mata sama sekali! Ia benar-benar seperti robot. Ia tertawa tetapi tidak bisa menyeringai. Ia menangis tetapi tanpa air mata. Ia tubuh tanpa jiwa. Ia bergerak hanya berdasarkan perintahku ketika aku membutuhkannya untuk menyiapkan segelas kopi untukku. Seluruh roda hidupnya kubuat jalan di tempat.

Setiap hari perempuanku sibuk dengan dirinya sendiri. Ia sibuk mencari mulut yang memuat lidah, bibir, dan giginya, juga memunguti kristal-kristal air matanya di dalam frezer, atau merenda sel-sel kelabu di dalam kepalanya dan menyulam semangatnya yang hilang.

"Apa kau menulis tentang perempuan lagi?" suara perempuanku mengelegar kali ini.
Aku tengadah karena terkejut. Jari-jemariku berhenti menari di atas keyboard tuts-tuts laptopku. Dan aku terperanjat tidak kepalang tanggung ketika aku menyadari perempuanku berdiri di depanku dengan begitu perkasa! Jahitan di bibirnya sudah rentas. Gigi geliginya sudah menjadi taring semua. Dan…lidahnya berapi!

Astaga!
Aku larikan pandanganku ke toples berisi air keras di mana aku mengawetkan organ-organ mulut perempuanku. Semua masih lengkap di dalam toples itu…

"Bah! Kau kira kau bisa memasung mulutku untuk selamanya?" Ia bertanya dengan ketus.
Aku berlari ke gudang gelap di mana aku menyekap sel-sel kelabu otak dan semangatnya. Semua masih ada di tempatnya.

"Kau pikir aku tidak bisa mendapatkan sel-sel kelabu dan semangat baru?" Ia bertanya dengan nada mencemooh.
Aku berlari lagi membuka frezer. Kulihat butir-butir air matanya yang membeku masih menjadi stalagnit dan stalagtit di sana. Tidak ada yang berubah.

"Kau mau aku tidak bisa tertawa dan menangis untuk selamanya kan? Kau kira semudah itu?" Suaranya terdengar sampai di tempat aku berdiri.
"Lalu apa maumu?" kudengar nada suaraku setengah putus asa.

Aku berjalan gontai dengan bahu lesu kembali ke tempat dudukku. Aku merasa seperti ada sebuah bahaya laten yang mengancamku. Naluriku mengatakan bahwa perempuanku sekarang lebih berbahaya dibanding lima tahun lalu.

"Jangan main-main dengan perempuan!!!" jawabnya cepat dan tegas.
"Apa?!"

"Jangan main-main dengan perempuan!!!" Ia mengulangi kalimatnya.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu..."

"Baik. Sekarang giliranmu untuk duduk dan mendengarkan kata-kataku. Tutup laptopmu. Karena aku muak dengan semua tulisanmu yang gentayangan di dunia perempuan. Sekarang aku ingin kamu menulis tentang laki-laki!" perintahnya seperti seorang juragan.

Nah…nah…nah…, inilah salah satu alasan kenapa aku memasungnya lima tahun lalu. Ia benar-benar seperti seorang juragan, seorang boss, seorang atasan, seorang direktur, kalau sudah mengeluarkan kata-kata. Ia perempuan yang bisa membuat kebanyakan orang mengiyakan semua kata-katanya.

Tetapi, tidak aku!
Justru aku adalah orang yang membuatnya mati dari kata-kata. Memasungnya mati dari emosi. Membuatnya tidak peduli dengan dunia sekitarnya. Kusibukkan ia dengan mencari mulut, sel-sel kelabu, semangat, dan air matanya.

Perempuanku mengambil posisi duduk di depanku. Ia pandangi aku dengan matanya yang berapi. Lalu mulai bicara lagi dengan lidahnya yang berapi pula.

"Aku ingin kamu menulis tentang laki-laki!" Ia mengulangi kata-katanya.
"Aku tidak bisa..."

"Harus bisa!" potongnya cepat. "Sudah terlalu banyak dan sudah terlalu lama perempuan dipermainkan dari segala segi. Coba kamu lihat semua iklan di televisi, mulai makanan, sabun, elektronik, pakaian dalam, obat datang bulan sampai obat panu kadas dan kurap, semua memakai perempuan," ia mulai nyerocos dengan intonasi suara yang semakin lama semakin tinggi.

"Itu namanya perempuan mempunyai nilai jual karena indah dan menarik."
"Bah! Perempuan mempunyai nilai jual? Apa maksudnya perempuan itu menarik? Lalu dengan alasan menarik itu kalian, kaum laki-laki, dengan seenaknya saja mempelajari dan membedah perempuan bukan saja secara visual tetapi juga secara riil. Dokter-dokter kandungan mengobok-obok perempuan mulai dari labia mayora, labia minora, saluran falopii, uterus, bahkan menjadikannya kelinci percobaan untuk proses inseminasi, bayi tabung, bahkan mungkin program cloning di kemudian hari, dengan alasan kemajuan ilmu kedokteran."

"Itu namanya kodrat. Karena itu perempuan berharga..."
"Apa katamu?" Ia seperti harimau meradang.
Matanya semakin berapi. Lidahnya semakin membara.

"Perempuan berharga?! Kalau perempuan berharga kenapa undang-undang perkawinan hanya mengatur tentang poligami? Kenapa tidak mengatur tentang poliandri? Kenapa kalau perempuan tidak bisa memberikan keturunan bisa menjadikan alasan bagi laki-laki untuk kawin lagi? Bagaimana dengan laki-laki yang impoten, azospermia, ejakulasi dini, atau apa saja namanya..., bisakah dijadikan alasan buat perempuan kawin lagi? Di mana hukum perkawinan kita menempatkan bahwa perempuan itu berharga?"

"Ah…kau lebih baik menjadi aktivis perempuan dan ikut demo di bundaran Hotel Indonesia saja sambil membawa spanduk besar-besar membela hak asasi perempuan," aku mulai kalah omong.

Nah…nah…nah…, wajar kan kalau perempuanku kupasung lima tahun lalu? Memang semua yang dikatakannya benar dan masuk akal. Tetapi juga benar-benar membuat posisi laki-laki berbahaya.

"Kalian, kaum laki-laki, masih belum cukup puas dengan itu. Semua wartawan koran masih saja menulis tentang perempuan yang diperkosa dengan visum et repertum vagina sobek dan selaput dara rusak, lalu dibunuh, dipotong-potong dan dibuang. Kenapa tidak pernah ada berita seperti ini...hm..." Ia kelihatan berpikir sejenak. "Begini...: Telah ditemukan mayat seorang laki-laki di atas tempat tidur dalam keadaan telanjang dengan bagian-bagian tubuh terpotong-potong, kepala lepas dari tubuhnya, dan menggigit penis yang dijahitkan ke mulutnya sendiri. Bagaimana?"

Huek!
Tetapi perempuanku justru tertawa terkekeh-kekeh sampai air matanya meleleh.

Setelah lima tahun, baru kali ini aku melihat matanya mengeluarkan air mata lagi, bibirnya menyeringai tertawa, dan ada nada suara yang keluar dari labirin tenggorokannya.

Aku tidak tahu apa makna tertawanya. Ia sukakah? Gelikah? Getirkah? Atau mungkin aku terlalu lama memasung perempuanku sehingga aku sendiri tidak mengenal makna tertawanya dan tidak bisa membaca arti air matanya? Aku tidak kenal dengan perempuanku sendirikah?

Sehabis tertawanya yang cukup lama, ia menarik nafas panjang. Mengambil sebatang rokokku di atas meja, menyulutnya dengan lidahnya yang berapi. Ia memang tidak memerlukan korek api lagi karena lidahnya sudah berapi.

"Sekarang, kalian yang mengaku penulis, juga beramai-ramai menulis tentang perempuan. Kalian telanjangi perempuan di atas kertas sampai tidak ada ruang untuk sembunyi lagi untuk perempuan. Kalian geluti dan perkosa perempuan beramai-ramai dari visualnya, haknya, organnya, emosinya, air matanya, juga kelaminnya!"

"Ng… karena perempuan menarik. Ia marah menarik, ia tertawa menarik, ia menangis juga menarik, ia telanjang…apalagi. Menarik sekali!"
"Ya, kalian telanjangi perempuan habis-habisan."

"Karena menelanjangi perempuan itu nikmat."
"Kenapa tidak menelanjangi pemikirannya, ide-idenya, semangatnya, kekuatannya, atau telanjangi penderitaan dan rasa sakitnya?" kata-katanya seperti peluru keluar dari moncong senapan.

Sementara itu asap rokoknya mengepul sambung-menyambung seperti asap lokomotif kereta api.

Aku terdiam.
"Atau... karena kalian cuma main-main dengan perempuan..." Ia menutup kata-kata dengan nada sumbang.

Mungkin ya.
Mungkin?

Ya. Mungkin.
Perempuan memang obyek yang menarik untuk dijadikan mainan kata-kata, mainan imajinasi, mainan emosi, juga mainan inspirasi. Tetapi jika ternyata "permainan" dengan perempuan itu akhirnya menimbulkan ketimpangan dan ketidakadilan seperti yang dirasakan oleh perempuanku, aku masih tidak tahu harus meletakkan masalahnya di mana.

Apakah memang perempuan adalah obyek lemah yang mudah dipakai sebagai mainan? Atau memang perempuan justru obyek kuat yang menikmati dirinya ketika dipergunakan sebagai mainan? Apakah perempuan memang begitu menarik dan berharga dari segala segi sehingga menjadi komsumsi pasar, teknologi, sampai kepada para pujangga dan seniman? Atau sebaliknya, perempuan justru sangat rendah sehingga tidak mempunyai persamaan hak di dalam hukum dan seks?

Tetapi bagaimanapun perempuan, apakah ia kuat atau lemah, apakah ia berharga atau rendah, ternyata ia tetap menjadi "obyek". Karena begitu ia ingin mengganti posisinya menjadi "subyek", maka seperti aku, kaum laki-laki akan memasungnya. Karena sebagaimana yang kupikirkan, jika perempuan menjadi "subyek" maka ia akan membahayakan posisi laki-laki.

Karena ia adalah mahluk lemah sekaligus kuat, ia direndahkan tetapi dibutuhkan, ia tidak berarti apa-apa tetapi sangat berharga!
Tengah aku masih sibuk dengan debat kusirku sendiri, perempuanku mendekat dan berkata, "aku ingin bercinta denganmu malam ini…"

Ia hembuskan sebuah udara dari mulutnya yang merupakan campuran dari nafasnya yang wangi dan kepulan asap rokok. Begitu seksi dan menggoda. Tetapi aku lebih merasakan itu sebagai sebuah perintah daripada sebuah permintaan.

Aku gemetar.
"Tidak, aku tidak berani main-main dengan perempuan..." ***

Surabaya, Maret 2004
Inspired by: Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) karya Djenar Maesa Ayu.
READMORE
 

Perjalanan Terakhir

Cerpen Wina Bojonegoro

"Ini akan menjadi perjalanan yang panjang dan melelahkan," ujar Noy.
Udara pengab. Kipas angin di atas lorong kereta tak lagi berguna. Satu-satunya harapan hanyalah angin yang menyeruak dari jendela kereta. Derai harmonika mencicit. Ditimpa suara gendang bertalu-talu. Meski terganggu, perpaduan keduanya cukup mengobati luka akibat derita kegerahan ini.

"Ini akan berlangsung selama 12 jam," desis Noy lagi. Aku menghela nafas. Apa daya, hanya ini pilihan terbaikku. Semoga petang nanti aku sudah sampai di mulut desanya.

Seseorang bernyanyi. Harmonika dan gendang mengiringi. Suara-suara lain menimpali. Orang-orang mencoba membunuh sepi. Beberapa pemuda gondrong bersiul-siul. Sesekali tertawa. Asap rokok mengepul dari hidung dan mulut mereka. Ini zaman merdeka, begitu mungkin pikir mereka. Kami boleh berasap di mana pun suka, tak peduli ada hidung lain yang merana.

"Kau sudah mengirim kabar?" tanya Noy di tengah kegaduhan. Aku menggeleng. Noy melotot.
"Kau tak banyak punya waktu. Sudah kau sia-siakan hidupmu..." Ya...ya…dia benar. Perjalanan ini memang penuh risiko. Mungkin ini merupakan perwujudan jiwa petualang, yang lama tak menemukan kesempatan.

"Kira-kira seperti apa wajahnya?" Noy menerawang keluar jendela kereta. Pertanyaan itu pula yang beberapa hari ini menggerayangi pikiranku. Tapi selalu kucoba menjawabnya sendiri. Seperti apa pun, aku tak peduli.

Kereta melambat. Gendang tetap bernyanyi. Harmonika tetap berdenyit, meski sama sekali tak padu. Suara-suara lain melemah. Kabut kantuk mulai membelenggu para penumpang kereta. Derak-derak roda melemah, kereta akhirnya berhenti. Stasiun Wonosari. Pedagang tahu, roti, mangga, boneka, berhamburan mencari peluang. Mendadak suara-suara kembali bangkit. Udara bertambah gerah. Genderang belum juga berhenti.

"Bagaimana perasaanmu?" Noy menoleh ke arahku. Aku tak pernah peduli, meski pada rasaku sendiri. Aku pergi hanya mengikuti intuisi. Sudah begitu lama kucoba membuang bayangnya, sejak ia berkata: "Kau sudah menjadi milik orang lain, aku pun akan melakukan hal yang sama. Kita akan mencari milik kita masing-masing."

Meski aku tahu ia tak sungguh-sungguh, aku toh pergi juga meninggalkannya. Aku laki-laki muda, waktu itu. Laki-laki selalu penuh keinginan. Mungkin juga kesalahan. Dunia begitu penuh warna, laki-laki muda kadang silau oleh pancaran kemilaunya. Hingga sesuatu memudarkan pancaran itu, hadirnya seorang gadis muda yang berkata: Aku sudah telat lima minggu.

Roda kereta berderak kembali. Harmonika telah bungkam. Gendang membisu. Suara-suara lain kembali melemah. Ladang jagung menua, seolah berlari di antara kereta yang diam.

"Pernahkah kau merasa bersalah?" Noy menatapku tepat di kedua mata. Kubuang pandangku pada deretan ladang jagung yang menggelar warna putih kekuningan. Mestikah perasaan bersalah diberikan dalam bentuk pengakuan? Yang kulakukan sepanjang 8 tahun terakhir adalah mendoakannya, semoga ia bahagia dengan siapa pun lelaki pilihannya. Sesekali ia datang dalam bentuk mimpi atau fatamorgana di siang bolong. Tetapi aku laki-laki, aku dilatih dengan baik oleh lingkunganku untuk membunuh suara hati.

Stasiun kelima terlewati. Hari mulai menua. Cahaya sore sudah mengintip jendela. Masih dua stasiun lagi harus disinggahi kereta butut ini. Kucoba tidur. Mataku sudah tertutup rapat. Tapi dalam kelopak itu kudapati wajahnya. Seringkali aku bertanya, mengapa ia masih sering datang padaku dalam bentuk serupa itu? Noy mulai gelisah. Ia berjalan hilir mudik menunggu stasiun terakhir.

Harmonika telah benar-benar berhenti. Namun suara gendang makin menggila. Orang-orang ikut bernyanyi mengikuti iramanya. Beberapa sambil menari. Goyangan kereta membuat mereka tertawa-tawa. Menertawakan ketidakmampuan mereka membayar karcis eksekutif, menertawakan kemauan mereka dijejalkan dalam gerbong pengab. Peserta tarian kian bertambah jumlahnya, dimulai sepasang dua pasang kaki, akhirnya seluruh penghuni gerbong menari dalam iringan suara gendang, kecuali aku dan Noy.

Dalam hiruk-pikuk itulah aku membuka lipatan kertas lusuh dari kantongku. Surat ini dikirimkan beberapa minggu lalu, dialamatkan ke kantor. Sudah berkali-kali kubaca, untuk memahami artinya. Istriku hampir memergokinya, tapi sebagai laki-laki aku dibekali 1001 alasan untuk berdalih.

"Ini pasti surat cinta!" ia memekik-mekik.
"Asumsi perempuan seringkali salah dalam menilai sesuatu," jawabku kalem.
"Aku istrimu. Aku berhak tahu apa yang kau simpan."
"Sejak dulu sudah kukatakan, sekalipun suami istri, kita harus punya wilayah pribadi yang harus dihargai pasangannya."
"Kau merahasiakan sesuatu dariku?"
"Semua orang perlu memiliki rahasia. Kalau tidak, kita telanjang di mana-mana."
"Apakah ini soal wanita?" Ia akan mulai terisak.
"Lelaki memiliki banyak hal untuk dirahasiakan, selama kau berpikir rahasia pria adalah wanita, kau akan menderita selamanya."
Perselisihan hari itu selesai. Dessert yang manis adalah memeluknya, menghapus air mata betinanya, lalu bercinta.
Sementara Noy hilir-mudik menenangkan diri, aku membuka lipatan surat ini dan membacanya untuk ke-17 kali.

Café Periplus jam 11.20 siang (Dalam harapan yang sia-sia di siang bolong).
Sejak kemarin sesungguhnya pikiranku sadar kau tak mungkin datang, tetapi hatiku. Dia bersikeras menunggumu di Jogja ini. Sedangkan aku tahu istrimu hamil tua. Tetapi alasan menjumpai penerbit seperti usulanku, tidakkah cukup mengelabuhinya?

Semalaman aku tidur dalam gelisah. Pendingin ruangan hotel Sosrowijayan tak mampu meredam gerahku. Sudah aku tongkrongi dirimu di warnet itu selama dua jam. Tapi namamu tak jua mencuat di Yahoo Massanger atapun Mirc. Sudah dua kali pula kulayangkan email selama dua jam itu. Jawabanmu nihil. Satu-satunya email darimu dalam bulan ini kuterima seminggu lalu. Isinya singkat: istriku hamil tujuh bulan, anak ke tiga. Aku tak mungkin meninggalkannya."

Namun tetap saja kulayangkan kalimat lagi: "Aku di kamar 217 Hotel Sosrowijayan." Naluriku mengatakan kau membaca emailku. Aku tahu kau ingin pergi. Aku tahu sedalam apa rasamu kepadaku. Tapi mungkin, istrimu wanita luar biasa yang mengantongi sejuta jimat Semar mesem, maka kau selalu berada di bawah ketiaknya. Kalau begitu kau adalah suami DKI.
Kenapa kau tak bernyali menemuiku? Bukankah aku pacar pertamamu? Kenapa kau tak berani selingkuh dengan mantan pacarmu? Paling-paling aku hanya perlu semalam dua malam denganmu. Terlalu sedikit jika dibandingkan dengan delapan tahun sejak kau jadi suaminya.

Tadi malam aku membayangkan dirimu memelukku. Aroma nafasmu, ketiakmu (yang mengandung sedikit amoniak kejantanan) serta bagian-bagian lain yang kukenal, memancing penderitaan cukup kuat. Bibirku terus-menerus memanggilmu. Harapku kaulah yang pagi tadi mengetok pintu kamar, ternyata cuma petugas hotel yang megirim secangkir kopi susu dan sebongkah omelet. Aku melahapnya juga. Anggap saja sebagai substitusi energi yang kugunakan dalam "pendakian" sendiri tadi malam. Dalam diam dan hening kuhirup ruap sedapnya kopi susu dan omelet ini, lalu aku menyiram tubuhku dalam hangat shower sambil membayangkan dirimu. Berikutnya aku mematut diri dalam cermin sembari menyadari kerja usia yang sempurna memahat kerut-merut pada seluruh bagian tubuhku. Waktu begitu kejam merenggut segala yang ada, sebelum aku dapat melakukan sesuatu, tiba-tiba saja terasa tepian batas itu sudah kian dekat.

Di café ini aku mencoba berandai-andai. Kau datang melongok rak-rak berisi buku asing itu. Kemudian menoleh ke arahku, kita berpagutan di sini tanpa peduli bahwa ini masih di Indonesia. Anggap saja ini Venesia, tempat kita pertama kali rendevouz. Tetapi di café ini hanya ada laki-laki bule, sama sekali tak identik dengan kulitmu yang nyaris legam serta nafas beraroma tembakau Virginia.
Baiklah Yon, sekarang kegelisahanku hampir sirna. Kakiku sudah mampu bergoyang bersama lagu "Girl from Ipanema" yang dimainkan pria sipit dengan grand pianonya di sudut sana. Kesia-siaan ini bukanlah tanpa alasan. Bukankah kita harus mengejar setiap mimpi yang kita genggam? Aku telah melakukannya dengan sempurna. Dan kini terasa betapa indahnya pengejaran itu.

Setidaknya kau tahu perasaanku tetap sama seperti 10 tahun lalu. Belum pernah ada caretaker di dalamnya. Peluang itu tetap milikmu, meski dulu terlontar keinginanku akan mencari pria lain. Sekarang keinginanku cuma satu: aku ingin mati dalam bahagia.
Saraswati
Pacar pertamamu

Kalimat terakhir itu tak kusukai. Sekaligus menjadi magnet, menciptakan pusaran, semakin kuat tiap jamnya. Akhirnya inilah perjalananku.
Para petani tembakau mulai beranjak meninggalkan ladang. Mereka melambai pada kami dengan wajah berseri. Aku tak tahu apakah hal ini semacam kebiasaan, atau sebentuk kekaguman pada lokomotif merah dengan sembilan gerbong yang meliuk-liuk menciptakan gaduh di antara ketenangan sawah ladang. Aku mencoba ikut melambai sebagai tanda partisipasi.

Harmonika berdenyit lagi. Suara gendang berganti jenis pukulan. Kali ini lebih pantas disebut genderang perang. Suara istriku kembali terngiang.
"Aneh! Sejak kapan seorang redaktur mendapat tugas reportase, di Lawang lagi. Ada apa sih di sana?" Sekali lagi, kemampuan improvisasiku mendapat tantangan.

"Liputan khusus tokoh-tokoh veteran. Semua reporter mendapat tugas meliput di ibukota. Kalau tidak percaya, telepon saja pemred-ku." Tentu saja aku sudah membuat perjanjian dengan bosku itu, dan menyuap teman-teman sebelah meja dengan nasi padang beberapa bungkus untuk mempermulus perjalanan ini.

Noy kembali kepadaku. "Sudah dekat, bersiaplah," serunya. Akhirnya memang, kereta berhenti di Stasiun Lawang. Sekeranjang perasaan bahagia bergelembung menyertai pergeseran kakiku. Segera kulipat Noy dan kurapikan, lalu kembali kumasukkan ke dalam dadaku, karena di situlah tempatnya sehari-hari. Dari situ pun kami tetap bisa berdialog sepanjang mataku terbuka.

Matahari benar-benar telah ditelan Bethara Kala ketika aku meloncat dari ojek. Bulan mengintip di angkasa dengan separuh wajahnya. Deretan pohon akasia berbaris dingin di sepanjang jalan. Dewa Maruta berlenggok tipis penuh kemalasan. Sementara anjing-anjing kampung melangkah gontai mencari pasangan kawin untuk melawan dingin. Sesekali raungnya mengiris telinga.

Aku berdiri tepat di depan rumah yang sama sepuluh tahun lalu. Rumah kayu berwarna hijau dengan pagar beluntas dan pohon rambutan di sekelilingnya. Samar-samar cahaya lampu dinding menyeruak melalui celah-celahnya. Termangu sejenak, menata debar sebelum aku memukulkan jemariku pada daun pintu dengan ketukan khas milik kami berdua. Setelah ketenangan kembali tergenggam, aku mulai beraksi.

Tok toktoktok toktok tok
Tak ada reaksi. Sekali lagi.
Tok toktoktok toktok tok.
Terdengar suara sendal diseret, pintu berderit.
"Yon…kaukah itu?" suara yang sama. Irama yang sama. Dadaku kian berontak. Perasaankukah yang masih sama?
Pintu kayu membelah dari kedua helainya. Seraut wajah menyembul. Masih wajah yang sama. Bedanya hanyalah saputan pucat di wajahnya. Ia nampak begitu kurus dan menua.

Aku memeluknya. Ia memelukku. Nyaris tanpa kata-kata. Jantungku mendadak berguncang begitu hebatnya. Dan kurasakan Noy meronta-ronta dari dalam dadaku. Entah ia mau bilang apa.

"Akhirnya kau datang, Yon. Akhirnya…." Ia menciumi seluruh wajahku tanpa ampun. Aku membalasnya dengan keganasan serupa. Aku tak merasai apa-apa kecuali rindu yang pekat, kehilangan yang begitu lama. Akhirnya kami tergeletak tak berdaya, lelap dalam mimpi bahagia. Dan terjaga esok pagi oleh sengatan matahari yang berhamburan dari jendela. Tetapi aku tak lagi berada di atas kasur, melainkan di atas kursi malas di ruang tengah, tempat kami dulu berbagi cerita menanti malam.

Tetapi kali ini kursi malas tidak sendiri, dia menempati salah satunya.
"Selamat pagi, pria perkasa." Ia sering memanggilku demikian, aku suka mendengarnya. Entah palsu atau nyata, panggilan itu semacam kalimat pemujaan, membuat laki-laki merasa begitu bangga.

"Sekarang kau milikku selamanya, kau tak bisa ke mana-mana." Secara spontan aku bangkit, namun sesuatu menahanku. Kedua tangan dan kakiku terbelenggu pada kursi malas. Nanar kutatap satu per satu dengan penuh tanda tanya. Dia tersenyum menatap keluar jendela seraya mengayun-ayunkan kursi goyangnya. Dengan wajah penuh kemenangan ia mengangkat segerombolan anak kunci.

"Mereka akan kubuang ke dalam kakus. Kau akan di sini menemaniku sampai ajal menjemputku. Hodgin Limpoma-ku sudah akut sejak beberapa tahun lalu. Kaulah satu-satunya yang harus menyaksikan kepergianku nanti. Jangan takut berteriak kalau kau ingin. Para tetangga sudah menantimu lama, seorang mantan penghuni rumah sakit jiwa Menur. Mereka juga yang menyiapkan pasungan berbentuk kursi malas ini."
Yang bisa kulakukan kini hanyalah menatap wajahnya dengan putus asa.***
READMORE
 

Aku dan Perempuan Anganku

Cerpen Lan Fang

11.54 malam hari, aku baru menyelesaikan sebuah naskah dan mengirimkannya melalui email ke sebuah media. Sementara dua gelas kopi, segelas air putih, sebotol sirup multivitamin, sebotol obat tukak lambung, dan sebuah asbak dengan satu, dua, tiga, hmm….tujuh puntung rokok berserakan di sisi kiriku.

Aku bangkit dari dudukku dan menyelonjorkan otot-otot punggungku yang kaku dengan berbaring di sofa. Sementara perempuanku sudah sejak tadi lena berpelukan dengan gulingnya. Buat aku, tidak terlalu penting, apakah aku harus tidur di sofa atau di ranjang yang sama dengan perempuanku.

Sebetulnya, perempuanku tidak terlalu suka tidur seranjang denganku. Begitu pula aku. Menurutku, ia terlalu banyak aturan. Sedangkan menurutnya, aku terlalu jorok. Ia selalu menyuruhku mencuci muka, tangan dan kaki, menggosok gigi, memakai kaos dan celana tidur, lalu mengecupnya dan mengucapkan "Have a nice dream, honey…" Bah! Ia memperlakukan aku seperti anak lima tahun! Bukankah lebih nyaman menyelonjorkan tubuh dengan posisi seenaknya di atas sofa, dengan perasaan puas karena aku telah menyelesaikan sebuah naskah yang baik, walaupun itu tanpa menggosok gigi dan mencuci muka, tangan, kaki, lalu mengucapkan "Selamat tidur, sayang…" kepada angan-angan?

Angan-angan?
Hm…aku meletakkan kedua lenganku di belakang kepala.
Angan-angan?
Hm…aku memasuki sebuah café di sebuah plaza di tengah kota Surabaya di sepotong senja kelabu yang bergerimis. Hanya beberapa orang duduk di dalam café itu. Sepi. Sayup-sayup When I Need You mengalun dari suara Julio Iglisias.

Angan-angan?
Hm…aku melihat seseorang perempuan duduk di meja paling sudut di dekat jendela kaca. Ia memandang rinai gerimis seakan-akan menghitung jarum-jarum air yang turun satu per satu itu dengan tatapan kosong. Wajahnya cantik tetapi muram. Tubuhnya molek tetapi bahasa tubuhnya jelek sekali. Ia menggigiti ujung jari-jarinya, ia juga mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuknya, ia juga gelisah bergantian menyilangkan kedua belah betisnya yang langsing.

Angan-angan?
Hm…aku berjalan menuju perempuan itu.
"Kenapa kau masih di sini?" tanyaku pada perempuan itu.
Ia menoleh. Tersenyum. Tetapi tetap muram. "Menunggumu. Akhirnya kamu datang juga," jawabnya gamang.
"Sudah lama?"
"Lama sekali. Bahkan hampir putus asa menunggumu."
"Lalu kenapa terus menunggu?"
"Karena aku yakin kamu pasti datang. Karena aku sudah berjanji tidak akan meninggalkanmu. Karena aku sudah berjanji selalu berada di sisimu."
"Ah…," aku menghela napas dan kemudian duduk di depannya.
"Kenapa kau lakukan itu? Aku sudah dimiliki seorang perempuan," kataku sambil memandangnya lekat-lekat.

Ia mengangkat bahu. "Kalau aku jawab karena aku cinta padamu…, mungkin akan sangat terdengar klise. Kamu sudah pasti menulis terlalu banyak untuk sebuah kata cinta. Kalau aku jawab karena aku percaya padamu, mungkin akan sangat terdengar tolol. Kenapa bisa percaya kepada laki-laki yang telah memiliki dan dimiliki perempuan lain. Lalu menurutmu, aku harus menjawab apa?" ia balik bertanya.

"Jawab saja sesuai kata hatimu. Bukankah kata hati adalah suara yang paling jujur?"
"Hm…," ia bergumam agak panjang sambil menghirup float avocado di depannya. "Karena ngeri sekali rasanya membayangkan bila harus kehilangan dirimu," jawabnya lugu tetapi menyentuh perasaanku.

"Kenapa aku?"
"Karena kamu memberikan rasa nyaman," sahutnya cepat.
"Apakah kamu merasa nyaman menungguku sekian lama?"
"Tidak."
"Lalu?"
Ia menikam manik mataku dengan tatapannya yang murung. "Tahukah kamu, kalau kangen itu adalah luka yang paling nikmat?"
"Ah, sejak kapan kamu jadi puitis?"
"Sejak bersamamu."
Aku tertawa kecil. Bersama perempuan ini memang mengasyikkan.
Jeda sejenak ketika aku memesan fruit punch kesukaanku.
"Fruit punch? Cold? Tidak kedinginan? Di luar hujan. Apakah tidak lebih baik memesan cappuccino?" sergah perempuan itu.
"Kamu selalu membuatku merasa hangat," sahutku.

Olala, benarkah kata-kata pujangga bahwa dunia bisa terbalik kalau sedang jatuh cinta? Panas jadi dingin dan dingin jadi panas? Malam jadi siang dan siang jadi malam? Ah, itu kalau jatuh cinta pada saat dan orang yang tepat! Sergahku dalam hati. Bagaimana kalau jatuh cinta pada saat dan orang yang salah? Alamak, mungkin siang malam akan menjadi panas dingin.
Telepon selularnya yang tergeletak di atas meja mendadak mengeluarkan bunyi ’mengeong’.

"Siapa?" aku bertanya tanpa mampu menahan tawa. Jarang sekali aku mendengar ring tone mengeong seekor kucing.

Ia bergerak menekan tombol view lalu memperlihatkan message di layar kepadaku: ’elu di mna, honey? Gw lagi di Palem café Plaza Senayan. Kpn mo ke jkt? Gw yg atur semuanya deh. Kgen mo refreshing ma elu :)’
"Seekor kucing yang kesepian…," sahutnya dengan nada sumbang.
"Seekor kucing?"
"Seorang laki-laki yang kesepian," ia mengulangi kata-katanya.
"Tadi kamu bilang seekor kucing yang kesepian."

"Laki-laki sama seperti seekor kucing. Licik," sahutnya enteng. "Seekor kucing yang mengeong-ngeong minta dipangku dan dielus-elus tengkuknya. Lalu ia merem melek tidur di pangkuan. Tetapi ketika tetangga sebelah menawarkan seekor pindang, dengan mudahnya ia mengeong, mengendus, dan menjilat kepada tetangga sebelah," sahutnya sejurus setelah menghirup float avocado lagi.

Aku tertawa tanpa bisa kucegah. "Masa sampai seperti itu?"
Ia mengangguk-angguk. Lidahnya yang merah terlihat seksi ketika ia menjilati bibirnya yang indah. "Ya, semua kucing seperti itu. Entah itu kucing Persia, kucing Siam, kucing angora, atau bahkan hanya kucing kampung. Kucing mudah tergoda dengan pindang, empal, hati, atau apa saja. Bahkan kalau tidak ada yang menawari, maka sang kucing akan mencari-cari kesempatan untuk mencuri di atas meja makan, di lemari dapur, atau bahkan mengais-ngais tempat sampah!" ujarnya pelan tetapi terasa ketus.

Aku ikut mengangguk-angguk. Ketika fruit punch-ku datang, kuhirup dulu. Rasa asam dan kecut terasa menyegarkan lidah dan tenggorokanku. Walaupun ujung hidungku juga membias dingin seperti embun yang mengkristal di badan gelas. Lalu aku menyalakan sebatang rokok kretek. Menghisapnya dalam-dalam. Menghembuskannya kuat-kuat. Rokok selalu membuatku merasa lebih tenang. Terlebih lagi jika aku berhadapan dengan perempuan ini.

"Hm…itu laki-laki ya. Laki-laki seperti kucing. Bagaimana kalau perempuan?" tanyaku sejurus kemudian.
"Perempuan seperti anjing…"
"Anjing?!" aku terpana.

"Ya, setia seperti anjing. Apa pun anjing itu. Anjing herder, anjing peking, anjing cow-cow, atau anjing kampung sekalipun, ia akan tetap duduk setia menunggu pintu sampai tuannya pulang ke rumah. Ia tidak akan makan pemberian tetangga sebelah. Anjing hanya memakan yang disodorkan tuannya. Ia tidak akan mencuri-curi kesempatan. Bahkan terkadang, tuannya sudah bosan dan mengusirnya sambil melemparnya dengan sepatu, sang anjing masih kembali menjaga pintu rumah tuannya," ia bicara panjang sambil tertawa.

"Ada sebuah cerita yang kudengar ketika aku masih kanak-kanak. Seekor anjing setiap pagi mengantarkan tuannya ke stasiun kereta dan setiap sore menjemput tuannya di stasiun kereta. Suatu hari, tuannya meninggal di jalan dan tidak pulang kembali. Sang anjing tetap menunggu tuannya di stasiun kereta itu sampai mati pula di dalam penantiannya di stasiun itu."

"Hei, menurutmu itu setia atau tolol, sayang?" ia terkikik.
"Hm, menurutku ironis!" sahutku.
Kali ini tawanya meledak. Ia tertawa sampai bahunya yang indah terguncang-guncang. Tawa panjangnya memenuhi ruangan café, sampai ke jalan-jalan, memantul di selokan-selokan, menembus tirai gerimis, mengalahkan suara merdu Julio Iglisias, mengaung di sepanjang lorong hatiku.
"Ya memang harus seperti itu. Ironis. Anjing dan kucing. Perempuan dan laki-laki. Kau dan aku."
"Kita?"
"Ya. Kita. Kau dan aku."
"Kau dan aku?" aku masih tidak mengerti.
"Ya. Kau adalah aku. Aku adalah kau."
"Hah?"

"Ya. Kau dan aku itu adalah satu kesadaran yang sama. Aku di dalam kau, dan kau di dalam aku. Kita adalah laki-laki. Dan kita adalah perempuan. Kita sekarang ada di café. Kita juga sekarang ada di rumah. Kau selalu membawaku pergi di dalam angan-anganmu. Aku juga selalu mengikuti kau pergi di dalam bayang-bayangmu."

"Mana mungkin?!" desisku terperanjat. "Kau adalah kau. Aku adalah aku. Ini cuma halusinasi. Ini cuma imajinasi. Ini cuma ilusi."
"Tidak. Kita adalah sama. Ini adalah deja-vu."
"Deja-vu?!" seruku tidak percaya.
"Kau siapa?" aku masih bertanya.
"Maya," sahutnya. "Aku Maya. Masa lalu, khayal, mimpi, semu, ada dan tiada."
"Aku siapa?" tanyaku lagi.
"Asa," sahutnya. "Kau Asa. Masa depan, harapan, dan cita-cita."
"Begitukah?" aku bergumam. "Kau Maya, masa laluku. Aku Asa, masa depanmu. Sekarang kita ber-deja-vu?"
"Ya," suaranya seakan-akan datang dari labirin ruang jarak dan waktu di belahan dunia lain.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita pulang bersama?"
"Bagaimana dengan perempuanmu?"
"Persetan dengan dia! Perempuan itu lebih suka memeluk gulingnya daripada memelukku. Sedangkan kau, selalu berada di dalam diriku."
Dia tertawa manis. "Dasar kucing."
"Meonggg…," sahutku.

Lagi-lagi ia tertawa. "Hai, alangkah baiknya kalau perempuan tidak lagi menyumpahi laki-laki dengan kata-kata ’anjing kau!’. Bukankah semestinya perempuan menyumpahi laki-laki dengan kata-kata ’kucing kau!’. Bagaimana menurutmu?"
"Meonggg…," sahutku lagi mengeong seperti seekor kucing yang sedang birahi.
"Kamu birahi ya? Horny, darling?"
"Meonggg…"

Aku menariknya ke dalam pelukanku di dalam angan-angan.
Dan aku orgasme ketika menyelesaikannya di dalam sebuah tulisan.
Akhirnya aku beranjak menuju kamar mandi untuk melakukan ritual perempuanku; mencuci tangan, kaki, muka dan menggosok gigi. Bah!
Ketika selesai kubasuh wajahku, aku tengadah melihat pantulan diriku di cermin di atas toilet.
Olala!
Aku separuh perempuan, separuh laki-laki.
Astaga!
Wajahku separuh anjing , separuh kucing.
Alamak!
Aku separuh menggonggong , separuh mengeong.
Ber-deja-vu-kah aku? ***

Surabaya, 2004
(I believe in you at all, oke?)
READMORE
 

Pohon yang Hilang

Cerpen Rachmat H. Cahyono

Lelaki bertubuh kecil bernama Marzuki itu terkejut melihat sosok yang berdiri di hadapannya. Ia serasa mengenali garis-garis wajah itu.

"Man, Lukman, masya Allah. Bener ini kamu, Man?"
Lelaki yang disapa Marzuki itu tersenyum. Benar, itu memang Lukman, kawan masa kecilnya.

"Apa kabar, Ki?"
Mereka saling berangkulan. Lebih tepat, Marzuki merangkulnya lebih dulu.

"Nggak saya sangka, Man. Keren banget kamu sekarang. Cakep. Berapa tahun ya kita enggak ketemu?"
Sebaliknya, ia justru melihat kehidupan mandek begitu saja di suatu tempat. Berubah menjadi hantu tumpukan persoalan yang membuat kenalan lamanya itu terlihat lebih tua daripada usia sebenarnya. Uban di rambut, kantong mata kendor, letih menatap hidup. Tubuh kecil ringkih.

Ia sengaja menyulap dirinya menjadi peziarah yang singgah sebentar ke tempat lama yang dikenalnya. Perkampungan itu. Perkampungan di tengah ibu kota. Hampir 20 tahun berlalu, semenjak keluarganya membawanya merantau ke kota lain. Ke pulau lain. Lalu menghilang dalam kelebat hidup bergegas di negeri empat musim.

Sekolah. Bekerja. Berkeluarga. Perkelaminan. Hidup ternyata cuma deretan angka-angka.
Berapa umurmu? Apakah nilai sekolahmu selalu bagus? Hei, kau sudah bekerja ya, berapa gaji pertamamu? Sudah berapa lama ya kita tidak ketemu? Nomor teleponmu yang sekarang dong? Umur berapa kau menikah? Berapa anakmu sekarang?

Hah. Angka. Angka. Angka.
Sekarang angin membawanya kembali ke sana. Ke tempat ia melewati masa kanak-kanak dan tahun-tahun awal masa remajanya. Dua puluh tahun lalu. Bukan waktu sebentar. Cukup untuk mengaburkan segala kenangan masa silam menjadi serpihan-serpihan samar yang tak lagi jelas warna dan bentuknya. Ah, kenangan. Bisakah manusia hidup dari kenangan?

Betapa pun ia menyukai kunjungan itu. Apa pun alasannya. Apa pun maknanya. Ia bisa kembali menginderai perkampungan yang begitu "kampungan" itu ("kampungan". Ia selalu mengucapkan kata itu dengan nada rindu yang berbekas di ujung lidahnya). Bertemu bau khas memualkan meruap dari selokan mampet berwarna keruh kehitaman. Terkadang ada bangkai tikus bengkak dengan perut membesar keputihan, mengambang di selokan. Orang-orang berlalu dengan sorot mata jijik dan tangan menutup hidung.

Tak ada kata lain yang lebih tepat selain mengakui perkampungan di tengah kota itu memang jorok betul dan kampungan betul. Padahal, letaknya bersisian dengan salah satu jalan penting di pusat Jakarta. Sebuah perkampungan tua. Konon riwayatnya bisa dirunut sejak Sultan Agung dari Mataram memutuskan menyerbu VOC di Batavia. Prajurit Sultan Agung yang tercecer kemudian menetap di perkampungan itu, kawin mawin dengan penduduk asli, beranak pinak. Jangan-jangan mereka desersi karena gagal menaklukkan birahi mereka sendiri.
Bagaimanapun, perkampungan itu pernah ikut mengasuh dan membesarkannya.
***
Marzuki mengajak mampir ke rumahnya. Ia penuhi ajakan itu. Masih rumah lama, rumah warisan orang tua. Letaknya berdekatan dengan lapangan bulu tangkis tempat dia bermain di masa kanak-kanak dulu. Sekarang lapangan itu sudah disemen, rapi, dengan garis-garis permainan dari ubin keramik putih, bukan lagi irisan bambu.

Hanya rumah Marzuki kelihatannya tidak banyak berubah. Letaknya masih lebih rendah daripada selokan di depan rumah. Rumah kecil yang catnya mengelupas dan selalu ramai celoteh kelima anaknya yang masih kecil-kecil. Yang selalu kebanjiran ketika musim hujan tiba. Marzuki memperkenalkannya pada perempuan berpenampilan seadanya. Istrinya.

Ia memaksa diri minum teh manis yang dibuatkan perempuan itu. Terlalu manis. Gelasnya tidak terlalu bersih; masih tersisa aroma sabun. Agaknya dicuci tergesa-gesa. Gelas murahan, dapat gratis jika membeli barang-barang tertentu di pasar.

Ia tak membiarkan Marzuki bertanya lebih jauh perihal kehidupannya sekarang. Buat apa. Ia tahu dunia mereka sudah terlalu jauh berbeda. Justru ia yang sibuk bertanya-tanya pada kawannya itu mengenai kehidupannya sekarang. Kehidupan kawan-kawan lama mereka. Orang-orang yang pernah dikenalnya, yang ikut mewarnai kehidupannya di masa lalu. Begitu banyak perubahan. Bukan untuk mengorek, tapi sekadar memenuhi rasa ingin tahunya saja.

"Si Jimi?"
"Jadi Bandar putaw. Mati. Ditembak polisi."

"Astaga. Kalo Syafri?"
"Di Arab. Jadi TKI."

"Rima?"
"Di Surabaya. Bini kedua. Anaknya udah tiga."

"Syamsul?"
"Alhamdulillah, dia yang paling bener hidupnya. Sekarang punya pesantren kecil. Di Bogor."

"Masduki?"
"Kerja di pabrik gelas di Tangerang."

"Ustad Bibi?"
"Meninggal, Man. Tahun lalu. Darah tinggi."

"Innalillaahi…"
Ah, kenangan manis. Masa kanak-kanak. Percakapan mengalir begitu saja. Wajah-wajah berlintasan. Samar-samar. Sayup-sayup. Ada orang mengaji Quran. Ingatan mengalir kembali. Ustad Bibi, Habibi, dengan rotan yang tidak pernah ketinggalan dihantamkan di rehal. Sakitnya cubitan ustad itu. Ia pandai mencubit seperti perempuan. Kecil, pedih, berbekas di paha.

Terbayang kembali masjid kecil dengan dinding setengah tembok setengah kayu, di tengah perkampungan, tempat dia belajar mengaji. Suara anak-anak membaca juz Amma. Ada suaranya di sana. Kecil. Nyaring. Cerita tentang sorga dan neraka. Nanti di alam kubur akan ditanyai malaikat. Ah, kenangan.

Untuk sesaat, ia juga bisa melihat kemuraman terhapus dari wajah Marzuki. Mereka tertawa, semakin larut dalam kenangan masa kanak-kanak.
"Tapi sekarang perkampungan ini tambah gersang ya, Ki? Pohon gede semakin jarang kelihatan."

Marzuki mengangguk, masih ingat betapa mereka dulu begitu gemar memanjat pohon. Sekarang perkampungan itu semakin kehilangan pohon besar yang bisa dipanjat anak-anak. Mungkin karena rumah-rumah semakin tumbuh merapat. Tak ada lagi lahan tersisa untuk tumbuh sebatang pohon besar yang bisa dipanjat anak-anak.

Padahal, begitu cintanya mereka waktu itu pada pohon tinggi. Pohon apa saja. Makin tinggi makin menantang. Ya, ia tetap mengingatnya dengan baik. Pohon mangga, pohon jambu air, pohon seri, pohon cereme. Bahkan pohon buni di dekat rumah kosong yang angker dan konon ada penghuninya, dengan buah kecil-kecil yang masam dan segar buat kelengkapan rujak tumbuk. Jenis buah yang tak lagi dikenali anaknya yang terbiasa dengan buah-buahan impor yang berderet di super market. Ah, Jakarta, ibu kota ini terlalu pelit dalam memberikan pohon di lingkungan pemukiman. Khususnya di perkampungan macam ini.

Mendadak Marzuki mengajaknya ke luar rumah. Ia mengikuti dengan pandangan bertanya. Masih di dekat lapangan bulu tangkis itu, Marzuki berhenti. Ada sebuah tempat anak-anak muda kampung itu biasa berkumpul.

"Masih ingat tadinya di sini ada apa?"
Ia tersenyum. Mengangguk.

"Pohon jaran. Kak Ila," bisiknya.
"Hehehe… ingetan kamu masih bagus, Man."

Ia tersenyum. Samar. Dulu di tempat itu memang ada sebatang pohon jaran. Entah apa nama latinnya. Pohonnya tinggi, besar, kokoh, sekitar 30 meter menjulang ke langit. Daunnya kecil-kecil, rimbun. Pohon kesayangannya. Hampir setiap ada kesempatan ia selalu menaikinya. Bahkan pernah bersama Marzuki ia membuat rumah-rumahan kecil dari kayu, di pohon itu. Ia senang berada di atas. Seolah tangannya bisa menjangkau langit biru. Gedung tinggi Jakarta terlihat di kejauhan. Mosaik pemukiman sekitarnya. Jika beruntung, pagi-pagi sekali, ia bahkan masih bisa melihat Gunung Salak dan Gunung Gede di kejauhan. Ia bisa menuntaskan khayalannya menjadi petualang perkasa yang menaiki tiang-tiang tinggi kapal layar yang berlayar di tengah samudera. Bahkan ia betah berjam-jam berada di atas pohon itu.

Dan sebuah kamar mandi umum tanpa atap, radius sekitar 30 meter dari pohon itu. Ingatan yang tak pernah lekang dari benaknya. Ketika dari atas pohon itu, tanpa sengaja, ia dan Marzuki memergoki tubuh perempuan dewasa yang sedang mandi. Utuh. Penuh. Sempurna. Dengan paha bak pualam, payudara indah seperti keramik Cina. Tanpa sehelai benang pun. Ia melihat semuanya. Tubuh bugil Kak Ila, istri Mas Agus, tetangganya. Basah berlumur busa sabun.

Pemandangan itu, meskipun hanya satu kali, begitu mengesankan dan sempat bersemayam lama di hatinya. Membuat dada kanak-kanaknya yang tengah memasuki masa peralihan ke usia remaja, selalu berdesir. Untuk pertama kalinya ia merasakan desakan gairah begitu kuat di sekitar celananya.

"Kamu tahu Man, aku onani pertama kalinya ya setelah ngeliat Kak Ila itu. Malamnya ketakutan setengah mati. Mikir, kemakan omongan orang, kalau onani bisa jadi buta dan gila. Bego ya, dasar anak-anak," bisik Marzuki sambil nyengir dan mengedipkan matanya.

Ia tersenyum simpul. Hal yang sama juga terjadi pada dirinya.
Sekarang pohon itu sudah tidak ada. Ditebang beberapa tahun lalu. Di bawahnya dibangun pos ronda. Namun, ia masih bisa melihat sisa pohon itu. Bonggol akar dan pangkal batangnya dibuat semacam meja oleh anak-anak muda kampung itu. Meja kayu yang tampak tua, hitam mengkilat karena dipernis berulang kali.

Meskipun hanya sebentar, ia tahu perjalanannya ke perkampungan yang pernah ditinggalinya itu memuaskan rasa ingin tahunya. Ada janji lain yang harus dipenuhinya kepada seorang relasi. Waktu untuk berpisah sudah tiba. Ia segera berpamitan pada Marzuki, masih sempat menyumpalkan lembaran uang ke tangan kurus itu

"Apaan nih, Man. Masya Allah, banyak bener. Enggak salah nih. Lima ratus ribu. Makasih ya, Man."
"Kalau ada tawaran harga cukup bagus untuk ngelepas rumah dan tanahmu, terima aja ya, Ki," katanya sambil bergerak menjauh dan melambaikan tangannya.
"Apa, Man?" Marzuki tak begitu mendengar perkataannya, karena masih terperangah pada rezeki nomplok yang hinggap di tangannya.
***
Dalam mobil yang membawanya ke salah satu hotel bintang lima di pusat kota, ia tahu ia tidak terganggu dengan kenangan sesaat dari perkampungan itu. Keputusannya tidak berubah.

Ia menelepon sekretarisnya. "Halo, Katrin, bagaimana dengan persetujuan gubernur? Sudah turun hari ini? Bagus! Saya sudah melihat lokasi itu. Sampaikan pada semua staf, saya minta mulai bergerak hari ini juga," pesannya dengan nada tegas.

Persetujuan dari gubernur sudah turun untuk studi kelayakan yang dibuat timnya terhadap wilayah itu. Cepat atau lambat warga perkampungan yang pernah menjadi tetangganya akan tergusur dari lahan itu. Dengan cara apa pun. Ia mengeraskan hatinya. Wajah-wajah mereka yang pernah dikenalnya di perkampungan itu berlarian di benaknya.

Sekarang ia siap kehilangan tempat itu. Perkampungan yang mandek dan tersesat dalam waktu. Mungkin terasa pahit pada awalnya. Tapi, obat pahit dibutuhkan untuk menyembuhkan sakit dan melanjutkan hidup. Pohon kokoh bisa ditebang jika tak dibutuhkan lagi. Marzuki dan keluarganya? Teman-temannya yang lain? Tetangganya di masa lalu? Terima kasih. Mereka akan selalu menjadi bagian kenangan hidupnya. Namun biarlah sang nasib yang akan mengatur hidup mereka selanjutnya. Ia pun hanya menjalani nasib dan kehidupannya sendiri. Ia tahu itu. Sejak lama.

Ia juga tahu berapa harga pantas untuk sebuah kenangan. Tolol kalau membiarkan perkampungan itu tetap ada dalam peta Jakarta. Lokasinya terlalu strategis untuk diabaikan dari sudut pandang ekonomi. Ia tahu ia bisa menyulapnya.

Ah, pesulap. Tiba-tiba saja ia ingat nama-nama itu.
"Rustam, kamu tahu pesulap yang namanya Houdini atau David Copperfield?" Ia bertanya pada sopirnya.

"Yang David itu pernah dengar, Tuan. Yang satu lagi, belum. Kenapa, Tuan?"
"Tidak apa-apa."

Ia tersenyum. Dengan koneksi, modal, dan kekuasaan yang dimilikinya, ia tahu ia bisa menjadi "pesulap" yang lebih baik daripada Houdini atau David Copperfield! ***
Jakarta, akhir Januari-awal Mei 2004
Untuk Ulfi Faizah di Malang
READMORE
 

Kiai Yazid dan Si Anjing Hitam

Cerpen Wawan Susetya

Syahdan, pada zaman dahulu, ada seorang kiai besar yang sangat dihormati. Orang-orang di sekitarnya memanggi Kiai Yazid --lengkapnya Kiai Abu Yazid al-Bustami. Santrinya banyak. Mereka belajar di bawah bimbingan Sang Guru. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia; ada yang dari Irak, Iran, Arab, Tanah Gujarat, Negeri Pasai dan sebagainya. Mereka setia dan tunduk patuh atas semua naSihat dan bimbingan Sang Mursyid.

Selain Kiai Yazid punya santri di pesantrennya, banyak pula masyarakat yang menginginkan nasihat dari beliau. Mereka pun datang dari berbagai penjuru dunia. Ada yang menanyakan tentang perjalanan spiritual yang sedang dihayatinya, ada pula yang bertanya cara menghilangkan penyakit-penyakit hati, bahkan tak jarang yang menginginkan usaha mereka lancar serta keperluan-keperluan yang Sifatnya pragmatis dan teknis lainnya. Semuanya dilayani dan diterima dengan baik oleh Sang Kiai.

Meski demikian, kadang-kadang terjadi pula tamu yang datang dengan maksud menguji dan mencobai Sang Kiai: apakah Kiai Yazid itu memang benar-benar waskita (tajam penglihatan mata batinnya)?

Para tamu yang datang, bukan hanya didominasi kalangan lelaki saja, tetapi juga ada perempuan sufi yang belajar kepadanya. Mereka ingin ber-taqarrub kepada Allah sebagaimana yang dilalui Sang Kiai. Di antara mereka ada yang berhasil, ada pula yang gagal di tengah jalan. Semua itu, kata Kiai Yazid, memang bergantung pada ketekunannya masing-masing. Beliau hanya mengarahkan dan membimbing; semuanya bergantung dari keputusan-Nya jua.

Karena ke-’alim-annya itu, akhirnya masyarakat memang benar-benar menganggap bahwa Kiai Yazid adalah sosok yang patut dijadikan tauladan atau panutan. Bukan hanya itu. Para kalangan sufi pun menghormati kedalaman rasa Sang Kiai. Para sufi pun banyak yang mengajak diskusi, konsultasi, musyawarah dan membahas soal-soal spiritual yang pelik-pelik. Nglangut. Hadir dan menghadirkan. Berpisah dan bersatu.

Kedalaman rasa Sang Kiai, misalnya, ia bisa saja merasa kesepian atau "menyendiri" ketika berkumpul dengan orang banyak. Di tempat lain, Sang Kiai sangat merasakan ramai, padahal ia sendirian. Begitulah, semua rasa itu tertutup oleh penampilan beliau yang memikat, mengayomi, melindungi, mengajar, dan gaul dengan banyak orang.
***
Pada suatu hari, Kiai Yazid sedang menyusuri sebuah jalan. Ia sendirian. Tak seorang santri pun diajaknya. Ia memang sedang menuruti kemauan langkah kakinya berpijak; tak tahu ke mana arah tujuan dengan pasti. Ia mengalir begitu saja. Maka dengan enjoy-nya ia berjalan di jalan yang lengang nan sepi.

Tiba-tiba dari arah depan ada seekor anjing hitam berlari-lari. Kiai Yazid merasa tenang-tenang saja, tak terpikirkan bahwa anjing itu akan mendekatnya. E?.ternyata tahu-tahu sudah dekat; di sampingnya. Melihat Kiai Yazid --secara reflek dan spontan-- segera mengangkat jubah kebesarannya. Tindakan tadi begitu cepatnya dan tidak jelas apakah karena -barangkali-- merasa khawatir: jangan-jangan nanti bersentuhan dengan anjing yang liurnya najis itu!

Tapi, betapa kagetnya Sang Kiai begitu ia mendengar Si Anjing Hitam yang di dekatnya tadi memprotes: "Tubuhku kering dan aku tidak melakukan kesalahan apa-apa!"

Mendengar suara Si Anjing Hitam seperti itu, Kiai Yazid masih terbengong: benarkah ia bicara padanya?! Ataukah itu hanya perasaan dan ilusinya semata? Sang Kiai masih terdiam dengan renungan-renungannya.

Belum sempat bicara, Si Anjing Hitam meneruskan celotehnya: "Seandainya tubuhku basah, engkau cukup menyucinya dengan air yang bercampur tanah tujuh kali, maka selesailah persoalan di antara kita. Tetapi apabila engkau menyingsingkan jubah sebagai seorang Parsi (kesombonganmu), dirimu tidak akan menjadi bersih walau engkau membasuhnya dengan tujuh samudera sekalipun!"

Setelah yakin bahwa suara tadi benar-benar suara Si Anjing Hitam di dekatnya, Kiai Yazid baru menyadari kekhilafannya. Secara spontan pula, ia bisa merasakan kekecewaan dan keluh kesah Si Anjing Hitam yang merasa terhina. Ia juga menyadari bahwa telah melakukan kesalahan besar; ia telah menghina sesama makhluk Tuhan tanpa alasan yang jelas.

"Ya, engkau benar Anjing Hitam," kata Kiai Yazid, "Engkau memang kotor secara lahiriah, tetapi aku kotor secara batiniah. Karena itu, marilah kita berteman dan bersama-sama berusaha agar kita berdua menjadi bersih!"

Ungkapan Kiai Yazid tadi, tentu saja, merupakan ungkapan rayuan agar Si Anjing Hitam mau memaafkan kesalahannya. Jikalau binatang tadi mau berteman dengannya, tentu dengan suka rela ia mau memaafkan kesalahannya itu.

"Engkau tidak pantas untuk berjalan bersama-sama denganku dan menjadi sahabatku! Sebab, semua orang menolak kehadiranku dan menyambut kehadiranmu. Siapa pun yang bertemu denganku akan melempariku dengan batu, tetapi Siapa pun yang bertemu denganmu akan menyambutmu sebagai raja di antara para mistik. Aku tidak pernah menyimpan sepotong tulang pun, tetapi engkau memiliki sekarung gandum untuk makanan esok hari!" kata Si Anjing Hitam dengan tenang.

Kiai Yazid masih termenung dengan kesalahannya pada Si Anjing Hitam. Setelah dilihatnya, ternyata Si Anjing Hitam telah meninggalkannya sendirian di jalanan yang sepi itu. Si Anjing Hitam telah pergi dengan bekas ucapannya yang menyayat hati Sang Kiai.

"Ya Allah, aku tidak pantas bersahabat dan berjalan bersama seekor anjing milik-Mu! Lantas, bagaimana aku dapat berjalan bersama-Mu Yang Abadi dan Kekal? Maha Besar Allah yang telah memberi pengajaran kepada yang termulia di antara makhluk-Mu yang terhina di antara semuanya!" seru Kiai Yazid kepada Tuhannya di tempat yang sepi itu.

Kemudian, Kiai Yazid dengan langkah yang sempoyongan meneruskan perjalanannya. Ia melangkahkan kakinya menuju ke pesantrennya. Ia sudah rindu kepada para santri yang menunggu pengajarannya.
***
Keunikan dan ke-nyleneh-an Kiai Yazid memang sudah terlihat sejak dulu. Kepada para santrinya, beliau tidak selalu mengajarkan di pesantrennya saja, tetapi juga diajak merespon secara langsung untuk membaca ayat-ayat alam yang tergelar di alam semesta ini. Banyak pelajaran yang didapat para santri dari Sang Kiai; baik pembelajaran secara teoritis maupun praktis dalam hubungannya dengan ketuhanan.

Suatu hari, Kiai Yazid sedang mengajak berjalan-jalan dengan beberapa orang muridnya. Jalan yang sedang mereka lalui sempit dan dari arah yang berlawanan datanglah seekor anjing. Setelah diamati secara seksama, ternyata ia bukanlah Si Anjing Hitam yang dulu pernah memprotesnya. Ia Si Anjing Kuning yang lebih jelek dari Si Anjing Hitam. Begitu melihat Si Anjing Kuning tadi terlihat tergesa-gesa --barangkali karena ada urusan penting-- maka Kiai Yazid segera saja mengomando kepada para muridnya agar memberi jalan kepada Si Anjing Kuning itu.

"Hai murid-muridku, semuanya minggirlah, jangan ada yang mengganggu Si Anjing Kuning yang mau lewat itu! Berilah dia jalan, karena sesungguhnya ia ada suatu keperluan yang penting hingga ia berlari dengan tergesa-gesa," k ata Kiai Yazid kepada para muridnya.

Para muridnya pun tunduk-patuh kepada perintah Sang Kiai. Setelah itu, Si Anjing Kuning melewati di depan Kiai Yazid dan para santrinya dengan tenang, tidak merasa terganggu. Secara sepintas, Si Anjing Kuning memberikan hormatnya kepada Kiai Yazid dengan menganggukkan kepalanya sebagai ungkapan rasa terima kasih. Maklum, jalanan yang sedang dilewati itu memang sangat sempit, sehingga harus ada yang mengalah salah satu; rombongan Kiai Yazid ataukah Si Anjing Kuning.

Si Anjing Kuning telah berlalu. Tetapi rupanya ada salah seorang murid Kiai Yazid yang memprotes tindakan gurunya dan berkata: "Allah Yang Maha Besar telah memuliakan manusia di atas segala makhluk-makhluk-Nya. Sementara, kiai adalah raja di antara kaum sufi, tetapi dengan ketinggian martabatnya itu beserta murid-muridnya yang taat masih memberi jalan kepada seekor anjing jelek tadi. Apakah pantas perbuatan seperti itu?!"

Kiai Yazid menjawab: "Anak muda, anjing tadi secara diam-diam telah berkata kepadaku: "Apakah dosaku dan apakah pahalamu pada awal kejadian dulu sehingga aku berpakaian kulit anjing dan engkau mengenakan jubah kehormatan sebagai raja di antara para mistik (kaum sufi)?" Begitulah yang sampai ke dalam pikiranku dan karena itulah aku memberikan jalan kepadanya."

Mendengar penjelasan Kiai Yazid seperti itu, murid-muridnya manggut-manggut. Itu merupakan pertanda bahwa mereka paham mengapa guru mereka berlaku demikian. Semuanya diam membisu. Mereka tidak ada yang membantah lagi. Mereka pun terus meneruskan perjalanannya. ***
(Inspirasi cerita: Kisah Abu Yazid al-Busthomi, tokoh besar dari kalangan kaum sufi)
Tulungagung, 9 Oktober 2003
READMORE
 

Lelaki dan Perahunya Yang Dikutuk Menjadi Batu

Oleh Sunaryono Basuki Ks

Sudahkah kau mendengar kisah tentang seorang lelaki yang dikutuk menjadi batu bersama perahu dan segala isinya? Ketika Oedipus dilahirkan, orang tuanya mengirim orang untuk bertanya kepada Orakel Dephi, yang menjawab dengan jujur tentang masa depan.

"Berhati-hatilah. Anak ini kelak akan membunuh ayahnya dan mengawini ibunya."
Maka, ayah yang bijak menyuruh orang membunuhnya agar bencana tak bakal terjadi. Namun, que sera sera, apa yang bakal terjadi terjadilah. Si bayi yang berwajah lembut itu diselundupkan keluar kerajaan oleh pesuruh yang tak tega harus melaksanakan perintah membunuh bayi tak berdosa.

Maka jadilah Oedipus pemuda yang merasa punya orang tua yang harus diabdi, kedua orang tua angkat yang tak sedarah dengannya. Lelaki muda yang berhati lembut itupun pergi ke Orakel Dephi dan bertanya:

"Wahai yang bijaksana, yang mengetahui tentang apa yang akan terjadi, katakanlah padaku tentang nasibku di masa yang akan datang."

"Pemuda yang gagah perkasa, berhati-hatilah, dan dengarkan baik-baik kata-kataku ini. Engkau akan membunuh ayahmu dan mengawini ibumu."

"Duh, Gusti, alangkah laknat anak ini, menyudahi hidup ayahnya sendiri, dan Duh Gusti, haruskah aku menjalani nasib yang nista, yang menjijikkan dengan mengawini ibuku sendiri. Tidak! Aku harus menghindari itu semua!"

Maka, tanpa mengucap pamit Oedipus lari meninggalkan negeri yang disangka negerinya. Di tengah perjalanan dia bertengkar dengan seorang lelaki yang menunggang kuda, membunuhnya, dan bertemu dengan Sphinx yang ditaklukkannya, dan disambut rakyat Thebes, jadilah dia raja baru dan mewarisi Sang Ratu yang ayu. Semua itu sudah kau dengar, dan tentang lelaki yang tak peduli tentang nasibnya di masa depan sehingga dikutuk menjadi batu, kau pun pasti sudah mendengar kisahnya.

Tetapi inilah kisah tentang lelaki yang meninggalkan negerinya, mengembara ke negeri jauh sebagai awak kapal dan kemudian kembali sebagai raja kapal yang kaya raya. Pulang ke desa dia menyembah ibunya yang tua renta dan miskin, serta memperkenalkannya pada seorang putri yang dibawanya dari negeri China.

"Inilah ibuku," katanya, membimbing tangan istrinya, "Bersujudlah ke ujung kakinya. Dialah perempuan yang mempertaruhkan jiwanya melahirkan diriku, menumpahkan darah di tanah kelahiranku ini."

Lalu, putri ayu mencium kaki ibu mertuanya yang penuh debu, mengharap restu dan kasih seorang ibu.

"Anakku," katanya dengan suara gemetar, "siapakah perempuan yang kau bawa pulang ini?"

"Dia adalah istriku, Ibu, seorang putri bangsawan dari negeri China," katanya dengan bangga.

Perempuan itu matanya sudah rabun, dipandangnya perempuan ayu yang bersimpuh di depannya, rambutnya lebat hitam, terurai sampai ke pinggang.

"Duh, anakku," kata perempuan itu. "Kenapa kau tak minta izinku?"

"Kenapa Ibu? Tidakkah Ibu berkenan menerima putri ayu ini? Adakah cacatnya, wataknya. Lihatlah alangkah lemah lembutnya dia. Kata-katanya pun tiada ada celanya."

"Berani-beraninya kau melanggar adat kita, wahai anakku."
"Adat yang manakah yang tak kuturuti, ya, Ibu?"
"Tidakkah pernah kukatakan padamu tentang pantangan yang sudah diwariskan oleh raja-raja kita? Tidakkah kau dengar kisah raja Jawa yang jatuh pamornya lantaran menikah dengan putri pujaannya yang adalah saudara tuanya? Kita ini bangsa muda, anakku, harus menghormati leluhur kita jauh di sana. Tulang-belulang kita belumlah kuat, tak sebanding dengan tulang istrimu. Akan hancurlah percampuran yang tak setara itu, sebab engkau menggagahi saudari tuamu sendiri."

"Ampunilah anakmu ini, ya Ibu. Doakanlah agar kutukan itu tak terjadi pada kami. Kami berniat suci untuk membina keluarga yang Ibu restui. Restuilah kami agar kami dapat meneruskan garis keluarga yang sementara berhenti pada tegak hamba ini."

Perempuan tua itu memegang kedua bahu putri ayu kemudian dengan suara gemetar berkata: "Bangunlah anakku. Tegaklah pada kedua belah kakimu dan pandanglah perempuan tua ini."

Dengan patuh putri ayu tegak menatap wajah perempuan tua itu yang telah keriput, rambutnya yang jarang sudah berwarna putih tak bercampur hitam. Di mata perempuan itu putri ayu melihat mata ibunya, yang berlinangkan air mata. Di mata itu pula terbayang wajah ayahnya yang dengan pandangan bengis melepaskan kepergiannya bersama lelaki yang dicintainya itu.

"Kalau engkau pergi, pergilah, dan jangan sekali-kali kembali menginjakkan kaki di negeri ini. Pergilah jauh bersama ombak, dan engkau akan selamanya dihempas ombak yang datang dari tengah laut, memandang jauh ke utara, memimpikan negeri yang telah kau tinggalkan, yang tak mungkin kau rengkuh kembali. Pergilah sampai halilintar nanti bergelegar dan langit terbelah mewartakan amarah para leluhurmu. Tunggulah saatnya sampai kau tak lagi dapat mengingat masa lalumu karena hatimu sudah menjadi batu bersama tangan dan tubuhmu."

Alangkah kejamnya kutukan yang telah diucapkan oleh ayahnya, dan kutukan itu makin menyata di mata perempuan tua yang sekarang menjadi ibu mertuanya, seolah dia mampu menyaksikannya datang makin dekat ke arah perahu batu yang dihempas air laut di pantai dilepas sebuah pura yang terletak di sebuah bukit batu.

Tubuhnya bergetar melihat kedua belah mata perempuan tua itu yang menampilkan batu karang memanjang yang selalu dihempas ombak, seolah sebuah perahu yang tiang-tiang utamanya telah patah. Di mata itu dia juga melihat badai, dan perahu yang terombang-ambing oleng dalam ayunan ombak yang tak henti-hentinya menerpa.

"Tabahlah, anakku. Bagaimanapun juga, kau adalah anakku, sudah menjadi anakku sendiri, dan apa yang sudah terjadi memang harus dilakoni. Kutukan dan hukuman tak bisa dielak tetapi bisa dimohon untuk tak semena-mena menghancurkan raga dan jiwa kita. Marilah ikut ibu memohon kepada Hyang Gusti Kang Murbeng Dumadi, Gusti yang memulai menghamparkan langit dan bumi bagi kita semua. Tiada kekuatan satu pun yang dapat menandingi kekuatan-Nya yang tak terbatas, sebab manusia hanyalah ciptaan-Nya yang hanya mencoba menyamai-Nya namun mustahil dapat menjadi kekuatan yang maha raksasa. Marilah menundukkan kepala kita, ya anakku, memohon kepada-Nya agar kutuk itu diperingan dan tak sampai menghancurkan kebahagiaanmu bersama suami dan kelak bersama anak-anakmu."

Lalu, mereka pun pergi ke tepi laut, dan perempuan itu duduk tepekur di pasir pantai.

"Kumpulkanlah lidi dan ranting-ranting kecil, buah ceri dan ketela pelepah pisang bawalah kemari," katanya, sementara anak dan menantunya pergi melaksanakan permintaan perempuan tua itu.

Lalu, dari lidi, ranting, dan pelepah pisang perempuan tua itu membangun sebuah perahu kecil, lengkap dengan tiang utama dan layar yang disobekkan dari bajunya. Di atas perahu dinaikkan seorang pelaut yang tubuhnya dibuat dari ketela dan kepalanya dari buah ceri. Lalu, mereka bertiga mendekat ke air laut.

"Layarkanlah perahu ini, anakku," katanya. "Kalian berdua, layarkanlah dia."
Mereka berdua berpegangan tangan dan melayarkan perahu kecil itu yang pelahan dihempas kecipak ombak kecil.

Tiba-tiba langit diselimuti awan gelap yang menyungkup langit dan petir sambar-menyambar. Perahu yang mulai bergerak ke tengah itu dalam kilatan petir nampak membesar dan membesar, dan akhirnya sebuah perahu sempurna lengkap dengan tiang utama dan layar yang masih tak sempat diturunkan, oleng diterjang badai ombak. Terdengar angin dari arah utara seolah teriakan lelaki yang sedang marah, dalam aum gemuruh badai menggila. Hujan deras mengguyur sekujur badan perahu, dan terakhir kilat utama menyambar perahu, mematahkan tiang utama dan menjatuhkan layar yang tak sempat terkembang ke air laut. Dan perahu yang oleng dalam cahaya kilat dalam gelap itu berubah menjadi batu, terbujur memanjang dan terdampar di pantai di depan pura yang berdiri kokoh di bukit batu, membatu bersama penumpangnya.

Ketika badai reda dan langit terang kembali, matahari menyinari batu karang yang terbujur memanjang, seolah sebuah perahu yang telah membatu.

"Itulah perahu yang menjalani kutuk itu. Suara ayahmu yang murka telah hilang ditiup angin, kembali ke arah utara."

Perempuan tua itu tetap bersimpuh di atas pasir. Putri ayu memegangi tubuhnya yang lesu agar tak jatuh menyentuh batu-batu tajam di pantai itu. Lelaki gagah itu duduk bersila menghaturkan sembah ke langit, bersyukur karena perahu kecil itu sudah berubah menjadi batu dan perahunya sendiri selamat memuat harga oleh-oleh untuk orang sekampung.

"Kasih sayang Ibu telah menyelamatkan kami berdua. Terima kasih kami, ya Ibunda. Tidak ada yang lebih mulia dari hati seorang ibu, dan Ibu telah memberikan kemuliaan itu kepada kami berdua. Sekarang, izinkanlah kami mengemban amanat ayahanda untuk meneruskan alir darah yang sementara berhenti di tubuhku ini."

Perempuan itu membuka matanya dan mencoba duduk dengan punggung tegak.

"Syukurilah peristiwa hari ini, anakku," katanya dengan suara lemah.
"Ya, Ibu. Kami bersyukur dapat lepas dari kutuk dan siksa," kata mereka berdua.
Masih dengan suara lemah, perempuan itu melontarkan kata-kata yang menggetarkan jiwa mereka.
"Tapi ini bukan akhir kisahnya, anakku. Masih ada yang akan tiba, yang lebih dahsyat, yang harus kamu tanggung berdua."
"Duh, Ibu, apalagi yang akan menimpa diri kami?"
"Itulah yang aku tak tahu," kata perempuan tua itu.
"Tak mungkinkah kami dihindarkan sekali lagi dari malapetaka?"
Perempuan itu memandang mereka dengan matanya yang tak lagi menangkap cahaya muka kedua anaknya.

"Telah terkuras tenagaku, sudah tak kuasa aku menyalurkan daya ke atas dunia fana ini. Tempatku adalah para-para cahaya, tak lagi di atas batu padas dan pasir pantai. Lihatlah ke atas awan dan akan terlihat gemintang yang berkedip. Salah satu di antaranya adalah ibu, yang selalu melihatmu di kala malam, mengenang hari-hari yang sudah lewat, yang selalu merindukanmu."

Dan perempuan tua itu memejamkan matanya buat selama-lamanya meninggalkan senyum yang memancarkan kecantikan jiwanya. Lelaki dan putri itu membakar jenazahnya dengan upacara yang layak dan menaburkan abunya ke laut, lalu memanggil kembali arwahnya untuk dibawa masuk ke dalam pura dalem.

Lalu, peristiwa yang lebih dahsyat dari perahu yang berubah menjadi batu, kapankah akan terjadi? Lalu, peristiwa macam apakah yang akan terjadi?

Dari hari ke hari keduanya menunggu peristiwa yang tak dijelaskan bentuk dan waktunya., sampai lahir putra sulung mereka, disusul oleh putri, dan putra lagi, dan putri lagi.

Sampai pada suatu hari, sebuah kapal dari negeri China dengan benderanya kepala naga yang berkibar mendekati pantai di mana mereka berdua tinggal, di kampung yang baru saja tumbuh. Tak ada ombak tak ada angin dan badai, namun kapal itu berhenti jauh agak ke tengah laut. Bererapa buah sekoci diturunkan ke laut, dengan beberapa orang pelaut mengayuh sekoci itu ke pantai.

"Tolonglah kami, Tuan Muda," kata lelaki itu dalam bahasa China, kepada lelaki yang kini sudah menjadi petani. Lelaki itu dapat mengingat sejumlah kata yang dipungutnya dalam kunjungannya ke negeri istrinya dan menjawabnya dengan sebuah pertanyaan:

"Apa yang harus aku lakukan?"
"Kapal kami terdampar. Tolonglah kami agar kami dapat melanjutkan perjalanan kami kembali."
"Siapakah tuanmu, ya tamu kami."
"Kami adalah anak buah Tuan Teh, Tuan muda."
"Mengapa kalian datang kemari?"
"Kami hanya singgah mencari putri Tuan Teh yang telah melarikan diri dengan seorang pemuda dari negeri jauh. Kami diperintah untuk membawa kembali tuan putri."
"Apakah dia The Giok Nio?"
"Bagaimanakah Tuan tahu?"
"Akulah suami putrimu, yang telah melahirkan empat orang putra putriku. Akankah kau membawa kembali dia ke negerimu?"
Para pelaut itu menghunus pedangnya bersiap hendak menyerang. Lelaki itu pun menghunus kerisnya, dan para lelaki itu undur sampai kaki mereka masuk ke dalam air laut.

"Lihatlah, hai para tamuku!" kata lelaki itu, kemudian mengacungkan kerisnya tinggi-tinggi. terdengar petir menyambar dan laut mengganas dan ombak menggoncangkan kapal. Tiba-tiba langit cerah kembali dan terdengar suara teriakan dari arah perahu. Terlihat orang memberikan tanda yang mengatakan bahwa kapal mereka tak lagi terdampar.

Para pelaut itu surut, undur dan menghaturkan penghormatan.
"Terima kasih Tuan Muda."
"Sampaikan pada Tuanmu bahwa sang putri selamat tak suatu apa dan berbahagia dengan suami dan anak-anaknya."
Mereka memberi hormat dan kembali menuju sekoci yang bergegas dikayuh kembali menuju perahu.

Lelaki itu seolah mendengar bisikan dari Ibu, di langit di antara bintang-bintang. Dengan memejamkan matanya lelaki itu menggumamkan:
"Terima kasih Ibu, telah kau ubah kutuk menjadi perbuatan mulia. Semoga ayah mertuaku dapat menerima kenyataan ini."
Dan, malam itu, di atas perahu, lelaki itu bersama istri dan empat orang anaknya diundang pesta perjumpaan dengan keluarga yang telah berpisah, jauh dipisahkan oleh lautan.***
Singaraja, 6 Agustus 2003
READMORE
 

Perempuan Ditingkap Purnama

Cerpen Satmoko Budi Santoso

Bukankah sudah lama kita duga
di loteng ini tak ada surga
dan kau, aku, mereka, tak mencarinya *


1.
IA melirik ke dalam makam, begitu sampai di pintu keluar. Angin berkesiur, meruapkan bebauan bunga kamboja. Cahaya petang berkeredap. Nisan yang ia lirik dari kejauhan telah berganti nama dirinya. Ia lega. Sudah bertahun-tahun ia tak menziarahi nisan itu, sampai ditandai dengan rambut yang memutih, bercak recak pada pipi bulat-bulat menghitam, dan sorot mata yang dirasakannya tambah merabun.

"Ada yang layak ditebus dalam perjalanan usia, tanpa berterus-terang," demikian ia mengigau, begitu sampai di tepi persimpangan tiga danau, menyalakan obor, kembali menaiki sampan. Tak boleh sampai gelap-pekat ia mesti tiba di tepi seberang, tak alpa menyalakan lentera di dalam rumahnya yang kumuh, berloteng penuh hilir-mudik keriut suara tikus.

Dulu, ia memang mengutuk diri sebagai perempuan laknat, karena setiap kali hamil tua sengaja mandi di bawah bulan purnama, di pinggir sumur, di luar kamar mandi. Orang-orang kampung di tempat bermukimnya tahu, jika ada perempuan hamil tua yang mandi di bawah bulan purnama, pasti bakalan kehilangan bayi. Setidaknya, bayi yang dilahirkan akan cacat. Pokoknya, siallah. Namun, ia tak menggubris keyakinan itu, dan benarlah, tiga anaknya menjumpai mala selama hidup. Anak pertama, lahir tanpa menangis, malah mendesis, seperti ular. Tak sampai tali pusarnya putus, mati pula. Anak kedua, hanya mampu hidup empat bulan, terserang diare dua minggu, dan menyusul mati seperti kakaknya. Anak ketiga, tentu lebih mengerikan nasibnya, mati mengenaskan dimakan buaya ketika sedang sendirian mandi di tepi danau. Agak lumayan, waktu itu usianya sempat sampai sepuluh tahun.


2.
DI masa tua, seperti yang terlalui dalam hari-hari dua tahun terakhir ini, kesibukannya yang rutin hanyalah keluar-masuk hutan, mencari kayu bakar dan berkebun, di sepetak tanah belakang rumah. Ia menghindar dari keramaian orang-orang kampung. Ia tak mau menghadiri acara apa pun yang digelar orang-orang kampung di paseban. Bahkan, tempat bermukimnya pun ia pilih menjorok, di dekat hutan. Bolehlah orang-orang kampung menyebut dirinya sebagai nenek yang menyelimpang dari jalan yang lazim, paling tidak dari kewajaran hidup sehari-hari.

Jangan tanya, tak pernah ada surat yang datang, yang dulu bisa sebulan sekali. Entah dari kerabat, entah dari sanak-keluarga. Karena surat-surat yang datang tak pernah dibalas, lumrahlah jika ia didiamkan saudara-saudaranya.


3.
PADA suatu malam, bulan purnama kembali bersinar. Cahayanya berkilau memutih, seolah-olah memantul di kelengangan air danau, tempat anak bungsunya dimakan buaya. Ia tepekur menatap danau, tanpa harus mengingat-ingat kematian anaknya, yang tinggal kepalanya tersungkur di tepian, sempurna dengan matanya yang melotot, mengalirkan sisa sembab air mata.

Aneh, ia malah bermain mata dengan buaya-buaya yang ada di danau itu. Ia tahu, mata buaya akan menyala jika malam hari, seperti lampu neon sepuluh watt. Tak sampai hitungan enam pasang, biji-biji mata buaya itu berjajar rapi. Tentu, bukan salah satu dari buaya itu yang telah membunuh anaknya, karena buaya yang membunuh anaknya sudah lama mati. Namun, memang buaya-buaya itulah yang beranak-pinak, sengaja tak dibunuh meskipun mereka selalu sigap membunuh.

Ia bersitatap dengan para buaya, di tepi danau yang elok indahnya. Dingin merajam jangat kulit. Kalau siang sampai sore hari ia masihlah berani menyeberangi danau itu, sekalipun ada buayanya. Ia merasa bisa menyiasati buaya-buaya yang baginya tak begitu membahayakan. Tapi, kalau malam telanjur menggelap-pekat, ia tak mau melawan kehendak alam. Ia sadar, pada saat-saat tertentu alam bakalan keji. Tak terduga, tak tertebak.


4.
FOTO-FOTO anaknya begitu lucu, terutama yang bungsu. Berkalung tulang sapi berbentuk tengkorak, berbaju kelombor tak pernah dikancingkan, bercelana gombrong, demen membawa ketapel. Ia akan memandangi foto-foto itu kalau pas kangen, di malam hari sebelum merebahkan diri, setelah berlama-lama mengaca-wajah, mengurut pipi kanannya yang penuh recak, bekas luka akibat ditampar dan dipukul ganas tangan lelaki. Sembari menyibakkan geraian rambut ke kanan dan ke kiri, ia termangu, tanpa tersedu-sedan. Masih ada sisa kelucuan yang menggerakkan kelenjar saraf ketuaannya, apalagi jika foto-foto yang ia lihat pas anak bungsunya berkacak pinggang. Atau, ketika menenteng burung hasil buruan dengan ketapel. Hmmm, seakan tak ada jarak dengan waktu yang silam, karena kangen terlampau menunjam dada.

Ia mendesah, mengucek mata, mengantuk. Malam seperti kelebat malaikat berjubah hitam. Lentera kamar ia matikan, ia tak dapat tidur tanpa kegelapan.


5.
ORANG-ORANG kampung pernah mau mengusirnya ketika ia dianggap sebagai dukun, tersebab kebiasaannya tak mau bergaul. Rumahnya juga dianggap sebagai maktab ilmu hitam, karena satu-dua orang asing entah dari kampung mana sesekali bertamu. Hampir saja ia dan rumahnya dibakar, seandainya tak bisa menjelaskan secara baik-baik tentang kebiasaannya. Untunglah, pada akhirnya kecurigaan dan kemarahan orang-orang kampung mereda, bahkan memaklumi. "Biarlah, ia uzur, siap berkalang tanah, bau kain warna ganih. Sesuka hatilah ia gembira, sebagai bekal maut," demikian sesepuh kampung berujar, bernilai jimat agar tak mengobarkan amarah.

Ia bersyukur. Tuhan berpihak kepada pendiriannya. Ia bersimpuh, tanpa harus kerepotan berjalan tertatih, memasuki tempat ibadah.


6.
MALAM yang ke sekian. Bulan purnama gagal berkilau, terhalang mendung semenjak sore. Purnama kesekian yang mengingatkannya pada ringis tangis anak-anaknya yang memecah keheningan rumah. Purnama yang dulu selalu ditandai lolong anjing yang memanjang, sebelum ia mandi tepat ketika pergantian malam, pergantian hari.

Sesekali ia malah berdendang, jika mengingat semuanya yang telah berubah. Dendang yang ia alunkan seirama seorang tua yang sedang menimang-nimang, menidurkan anaknya sembari digendong. Ada saat-saat untuk menujah/ Jejak tapak pada luka lama/ Kilah maksud teringinkan/ Pada rajam kecewa yang menganga //

Bedanya, kini ia mendendangkan syair tersebut jika pas mengaca-wajah, seperti malam itu, karena gagal mengharap purnama. Ah, sebentar lagi hujan...


7.
DINGIN njekut benar-benar mengabarkan hujan. Membasahi hutan, membasahi tanah. Memperbanyak rawa, mengeruhkan danau. Ia cuma berharap, semogalah hujan tak sampai pagi, bahkan siang hari. Semogalah hujan turun sebentar saja, asal basahlah tanah, asal terguyurlah bumi. Kalau berlama-lama, pasti ia juga yang kerepotan. Jalan ke hutan yang becek bakalan membuatnya terpeleset.

Begitu. Begitulah dari hari yang satu ke hari yang lain, semau-mau ia menapak. Berkali-kali telah ia robek ingatan atas sosok seorang lelaki. Telanjur ia kutuk sang lelaki dengan menyantet, kemampuan yang ia dapatkan ketika sebulan pernah berguru kepada seorang kakek, dulu, pada suatu masa, di lereng sebuah bukit. Jika tahan, karena kuat puasa mutih empat puluh hari empat puluh malam, tentulah siapa pun dapat melihat benda-benda yang ia terbangkan untuk menyantet. Paku payung, silet, gunting, maupun pisau dapur bukanlah benda-benda yang mengejutkan jika suatu saat bersliweran.

Benda-benda itu adalah benda-benda intim yang kapan pun bisa ia sarangkan ke dalam perut. Yang menggembirakan, kesemua benda itu telah bersarang di perut lelaki yang nama nisannya telah ia ganti. Dulu, lelaki itu mempecundanginya dengan berbohong tak pernah menggumuli perempuan selain dirinya. Padahal, secara sembunyi-sembunyi, ternyata telah beranak-pinak dengan salah seorang perempuan buruh ladang pemetik daun teh. Hmmm, tanah-ladang miliknya sendiri, yang juga telah ia lupakan, seiring kemauan mengubur kenangan atas wajah seorang lelaki. Entah siapa pun orang kampung yang melanjutkan merawat ladang teh itu ia rela. Entah mungkin saja hanya jadi bongkahan tanah kosong. Entahlah.....


8.
DESIR angin malam merambati celah pori-pori tangan dan wajahnya. Ia menguap. Mengatupkan mulut. Memejamkan mata. Mimpi? Sudah berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun ia tak pernah lagi bermimpi. Ah, mungkinkah ia sengaja mengganti nama nisan suaminya karena diam-diam tetap merasa berdosa? Atau, justru melengkapkan kesalahan dengan sama sekali tak peduli akan surga? Begitukah gugatannya terhadap ingatan usia? ***
*) Petilan sajak Hiroshima, Cintaku karya Goenawan Mohamad dalam antologi Asmaradana (Grasindo, 1992).
READMORE
 

Lelaki Muda dan Gadis Kecil

Cerpen Susialine Adelia

"Tamu Bu," Bibi membungkuk santun, mengarahkan ibu jarinya ke ruang depan.

"Siapa?" tanyaku sambil melipat koran, melepas kaca mata.

"Tidak tahu Bu, belum pernah ke mari."

Aku mengangguk. Bangkit dengan benak penuh tanya, aku yakin tamu itu bukan teman bisnisku, karena ini hari Minggu. Bukan pula saudara, karena biasanya mereka menelepon lebih dulu memastikan aku ada di rumah. Mungkin saudara jauh atau teman lama yang tidak tahu adat kebiasaanku? Bisa jadi.

Begitu membuka pintu kudapati seorang lelaki muda dan gadis kecil yang tengah bercanda di teras. Lelaki itu berkulit coklat terbakar matahari, berpakaian agak lusuh. Si gadis kecil berkulit lebih terang, berbaju baru dengan bahan kualitas rendah. Ketika gadis itu menoleh padaku, segera kutangkap sinar di wajahnya yang membuatku terkesiap beberapa saat. Sinar wajah itu tak asing bagiku. Meski bentuk hidung dan mata kedua tamu itu sama --yang membuatku bisa segera menyimpulkan bahwa mereka adalah bapak dan anak-- namun kutemui sinar lain di wajah anak itu.

Lelaki muda itu menoleh ke pintu, ke arahku. Seketika dia berdiri, mengangguk sedikit dan mengucap selamat siang. Aku menjawab dengan sedikit goyangan kepala. Sedikit saja. Tawa kecil si gadis kecil pun terhenti. Kupersilakan keduanya masuk, masih dengan jantung yang sedikit berdebar. Siapa mereka? Lelaki lusuh dengan sorot mata tajam. Jelas kemari bukan untuk minta sumbangan.

Setelah kami duduk, dia mulai memperkenalkan dirinya.

"Saya Jaya, Tante. Dan ini Neyla," katanya sambil meletakkan tangannya di bahu gadis kecil itu.

Neyla. Nama yang begitu mirip dengan nama anak gadisku dulu, Neyna.

"Maaf, mengganggu hari libur Tante," katanya. Suaranya mantap dengan intonasi jelas dan tatap mata yang begitu percaya dirinya.

Aku yakin dia bukan orang sembarangan. Cara dia berbicara dan tatap mata itu, tidak dimiliki oleh sembarang orang. Untung aku memperlakukannya dengan baik, batinku. Kutatap dia lebih lekat, mencoba menjajaki lebih dalam siapa sebenarnya laki-laki di depanku itu. Dia cukup tampan. Mungkin kemelaratan membuatnya kurang terawat dan tampak lebih tua dari usia sebenarnya.

"Saya ada titipan dari Neyna."

Neyna. Dia menyebut nama itu! Seketika menegang otot-ototku.

"Maaf baru bisa menyampaikan sekarang," lanjutnya. "Sangat terlambat, tetapi memang baru sekarang kami sempat ke kota ini."

Dia keluarkan dari tasnya yang kumal sebuah bungkusan pipih dan diulurkannya padaku. Kuterima bungkusan itu dan kubuka salah satu sisinya. Foto kami. Aku, suamiku, Andreas, dan Neyna. Foto yang dibuat ketika dua anak kami masih kecil. Mungkin Neyna baru seusia gadis di depanku itu. Jadi Neyna yang telah mengambil foto ini dari ruang tengah, batinku.

"Neyna minta maaf tidak minta izin mengambilnya dan minta tolong saya mengembalikannya kemari."

"Kenapa bukan dia sendiri yang mengembalikannya pada kami?" keramahan yang baru mulai muncul seketika sirna. Sikapku berubah dingin dan kaku.

Ingatan pada Neyna, anak perempuanku itu telah membuka kembali luka masa lalu. Masih jelas dalam ingatan betapa anak yang kukandung, kulahirkan dan kubesarkan itu tega menampar-nampar wajahku. Aku tak tahu, apa yang telah merasukinya. Neyna yang begitu manis dan menyegarkan hari-hari kami sekeluarga, sedikit demi sedikit mulai berubah begitu masuk kuliah dulu. Awalnya, hanya ikut kegiatan kemahasiswaan saja. Selanjutnya dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman di organisasi mahasiswa. Waktu itu aku mulai menegurnya. Kami sempat berdebat sebelum akhirnya tercapai kesepakatan bahwa aku tidak akan melarangnya berkegiatan selama dia mampu mempertahankan prestasi akademiknya.

Lama-lama dia mulai malas pulang. Rumah hanya dijadikan tempat singgah, tempat menyimpan barang yang diperlukannya kadang-kadang. Komunikasinya denganku menurun drastis. Aku yang dulu berfungsi sebagai teman ngobrol berubah menjadi kasir yang hanya ditemui pada saat butuh duit. Begitu jarangnya dia pulang hingga kadang aku terkaget-kaget ketika bertemu. Anak gadisku yang cantik, bersih, dan wangi tiba-tiba kutemui telah jadi malas merawat diri. Dia datang menemuiku dengan wajah tirus, mata lelah, dan baju yang apek. Bahkan pertemuan selanjutnya tidak kutemui lagi rambut hitamnya yang dulu lebat dan indah dengan poni yang membuatnya seperti boneka Barbee. Rambut itu telah dipangkas pendek karena dia merasa terlalu ribet mengurusnya.

Aku mulai punya alasan untuk marah dan melarangnya berkegiatan, tetapi dia membantah. Bahkan terang-terangan menyatakan sikapnya terhadapku. Mengkritik aku yang katanya otoriter, menjalankan kepemimpinan rumah tangga dan perusahaan sekehendakku, tanpa mau mendengar usulan dan suara ketertindasan orang lain. Siapa tak akan terbakar? Tahu apa dia tentang kehidupan rumah tangga? Apalagi tentang perusahaan. Tak sadarkah dia bahwa perusahaanlah yang membuatnya bisa hidup seperti sekarang?

"Perusahaan itu tumpuan hidup kita. Kamu tidak perlu mencampuri urusanku di sana karena kehancuran perusahaan berarti kehancuran hidup kita," kataku pelan namun tajam.

"Ya, memang perusahaan itu yang membuat kita jaya dan kaya-raya. Tetapi ingat Ma, itu bukan hasil kerja Mama. Para buruh itulah tulang punggungnya. Dan selama ini Mama dengan atas nama perusahaan telah memeras tenaga mereka tanpa imbalan yang sepadan," teriak Neyna lantang.

Aku meradang. "Kalau tak suka dengan cara kerjaku, jangan makan dari hasil kerjaku. Pergi, carilah makan sendiri atau tetap tinggal di sini dan kunci mulutmu!"

Di luar dugaan, benar-benar di luar dugaan, Neyna menerima tantanganku. Dia memilih keluar dari rumah. Meninggalkan kehidupan yang tak ada kurangnya ini dan menggantinya dengan kehidupan liar. Kehidupan yang serba tak tentu. Tidur di mana pun dan makan dari siapa pun. Entah seperti apa tepatnya, aku tak bisa membayangkan.

Pernah aku berniat menyusulnya karena tak tega, tetapi sebelum niat itu kesampian dia justru memimpin demo karyawan menuntut perbaikan kesejahteraan. Maka tidak sekadar gagal keinginanku menjemputnya, tetapi lebur juga maafku untuknya. Sejak itu aku tak mau berpikir tentang anak itu lagi. Dia kuanggap sudah hilang atau mati. Dia sudah bukan anakku lagi! Rupanya kepergiannya waktu itu sambil membawa foto yang sekarang ada di tanganku ini.

"Kenapa tak dia kembalikan sendiri foto ini?" tanyaku dengan sisa kemarahan masa lalu.

"Dia tak bisa," jawab Jaya.

"Kenapa?" tanyaku. "Takut bertemu denganku?"

"Bukan," Jaya menggeleng lemah. Berkedip-kedip sebentar. "Dia tak bisa menemui siapa pun lagi," lanjutnya pelan sambil menahan napas.

"Sakit?" tanyaku masih dengan keangkuhan.

Jaya menggeleng. Tanpa menatapku dia berkata-kata, "Neyna sudah…. pergi. Setengah tahun lalu." Dan laki-laki di hadapanku itu pun mengusap air matanya yang mengambang.

Aku menghempaskan diri. Tak sengaja. Memang aku begitu terluka oleh ulahnya dan meniatkan tak menganggapnya lagi sebagai putriku, tetapi kabar ini begitu mencabik perasaanku. Neyna, putri cantikku itu telah pergi selamanya…

"Maafkan, saya tak bisa menjaganya," laki-laki itu telah mampu menguasai perasaannya. Sikapnya kembali tenang. "Semuanya berjalan begitu cepat. Suatu hari tiba-tiba saya jumpai Neyna muntah darah. Saat itu juga saya bawa dia ke rumah sakit. Beberapa hari di sana, dokter menganjurkan agar dibawa pulang saja. Kanker ganas di paru-parunya telah menjalar ke organ-organ lain dan tim medis sudah tidak bisa berbuat apa-apa," dia berhenti sebentar, menghela napas. " Salah saya, selama ini tak pernah memperhatikan kesehatannya."

Kami saling diam beberapa saat lamanya. Masing-masing larut dengan kenangan dan penyesalan.

"Kau suaminya?" tanyaku kemudian dengan nada yang lebih lunak.
Dia menatapku sebentar sebelum mengangguk ragu. "Maaf, saya tak minta izin Tante lebih dulu."

"Jadi ini anak Neyna," kataku lirih, hampir pada diri sendiri. "Kalau boleh, biar aku yang mengasuhnya," kataku tiba-tiba.

Jaya tersenyum. "Makasih Tante, dia adalah napas saya. Jadi tak mungkin saya berpisah dengannya. Meskipun saya tak mungkin memberi kemewahan padanya."

Aku cukup tertampar dengan jawabannya. Tapi kutahan tak memberi reaksi apa pun pada jawaban itu.

Tak lama kemudian laki-laki itu minta diri. Kuantar sampai pagar. Sambil kubuka pintu, sempat kutanya, di mana mereka tinggal.

"Kami di lereng Gunung Geni. Saya bekerja bersama penduduk yang terancam kehilangan kehidupan mereka, karena rencana pembangunan taman nasional," jawab Jaya.

Lalu mereka pun berlalu. Sebelum angkot yang mereka tumpangi benar-benar berlalu, masih sempat kulihat lambaian tangan mungil anak Jaya padaku yang kubalas dengan lambaian pula.

Aku masih berdiri di pagar sekalipun kedua tamuku telah lenyap bersama angkot yang membawa mereka. Tiba-tiba aku teringat, sebentar lagi suamiku pulang. Dan dia tak boleh tahu apa yang terjadi. Jadi segera kututup pagar dan melangkah masuk. Membasuh muka lalu kembali duduk di depan tivi, sambil membuka-buka halaman koran Minggu. ***
READMORE
 

Sang Pengembara

Cerpen: Antoni

CINTA membuatku bodoh. Sebetulnya aku membenci keadaan ini. Sudah lama aku tidak jatuh cinta. Dan tiba-tiba makhluk gaib itu datang, menyergapku dari belakang, membantingku dengan kasar, jatuhlah aku ke pelaminan.

Aku seorang pengembara, tapi kini aku terjerat tali pernikahan. Bayangkan. Seorang pengembara terjerat tali pernikahan! Pernikahan tanpa janur kuning melengkung, tanpa kelapa gading menggelantung, tanpa setandan pisang raja, melati dironce-ronce, apalagi gending Kodok Ngorek, tidak ada sama sekali. Semua berlangsung tawar, tidak semerbak, abu-abu, persis mendung menggantung.

"Ini pernikahan resmi kan, Ma?" tanyaku kepada ibu mertuaku, setelah semua tamu pulang.

"Resmi…!" Alis matanya agak menaik. "Ada naib dan petugas KUA. Sah
menurut hukum dan agama. Emangnya kenapa?"

"Ya alhamdulillah, merasa bahagia saja…," jawabku. Aku memang seorang muallaf sejak Agustus 2003. Jadi maklum belum begitu paham.

Kami pun kembali terdiam. Ibu mertuaku asyik memisah-misahkan jepitan rambut yang tadi dipakai istriku. Ada yang besar ada yang kecil, dipisahkan satu dengan lainnya. Lalu disimpan di kotak kecil-kecil. Sambil menyulut rokok, aku sandarkan punggung ke tiang kayu penyangga rumah limasan ini. Tidak ada penutup atap. Gentingnya terlihat dari bawah. Lonjoran-lonjoran bambu tampak jelas.

Aku tercenung sejenak. Teringat mendiang ibuku yang meninggal November tahun lalu. Seandainya masih hidup, tentu ia bahagia sekali menyaksikan pernikahanku. Wasiat terakhir untukku hanya satu: ia ingin melihatku bahagia.

Rambutku terasa sedikit naik. Angin bukit batu yang kering, bersirobok masuk dari pintu depan. "Aku mengalami kebahagiaan hanya pada saat berdoa saja, Bu…," gumamku dalam batin.

Pernikahan, terus terang, memang membuatku bahagia. Meski perhelatannya berlangsung sangat sederhana. Pernikahan memaksaku berhenti mengembara. Puluhan tahun aku melintasi jalanan sepi dan gelap, berteman rindu dan harapan. Kakiku melangkah tanpa kepastian. Akhirnya aku dihentikan oleh kekuatan yang tidak pernah aku pahami. Jodoh membuatku berhenti melangkah.

Sebagai pengembara, sungguh tak pernah aku mempelajari apa itu hakikat perkawinan, rumah tangga bahagia, keluarga sakinah dan sebangsanya. Jadilah aku manusia paling bodoh. Mengalami ketergagapan budaya dalam berumah tangga. Sebuah ritual tradisional yang dijalankan turun temurun oleh seluruh umat manusia di dunia ini. Dan aku tidak mengenalinya sama sekali.

Dulu, aku merasa takut menghadapi pernikahan. Dalam bayanganku, semua keperluan rumah tangga harus dipersiapkan terlebih dahulu, seperti rumah, penghasilan tetap dan kendaraan. Sejak usia 18 tahun, sudah tiga kali aku membangun rumah, hanya untuk memahami elemen-elemen pernikahan itu. Rumah pertama, mungil tapi permanen, terpaksa aku jual karena pindah ke Surabaya. Dan calon istriku pergi jadi pramugari. Terbang, selamanya.

Rumah kedua, sebetulnya aku tidak begitu berminat membangunnya untuk tujuan berumah tangga, meski pacarku cintanya tak terbatas untukku. Kubangun di pinggir jalan besar, di sebuah desa yang tenang. Aku tinggal di situ setahun lamanya, sambil menyelesaikan buku keduaku tentang meditasi. Aku jual lagi. Pacarku ke Singapura bekerja di sana.

Setelah itu, aku tidak membangun rumah lagi. Tapi membelinya. Di daerah sentra pariwisata di Jogja. Sebuah rumah joglo tua dan angker. Kubuat galeri

kecil, lumayan juga. Lukisan-lukisan karyaku sempat dibeli turis Belanda dan Belgia. Akhirnya, karena jenuh dan ada peristiwa bom Bali, aku memutuskan

mengembara lagi. Rumah itu kujual secara tergesa-gesa.

Kini, aku punya istri yang setia tapi tidak punya rumah. Dulu aku punya rumah tapi hidup sendiri tanpa istri. He..he…he, ironis kan? Sementara ini istriku tinggal bersama mamanya. Ia memang anak yatim yang didera penderitaan hidup berkepanjangan.

Aku letakkan puntung rokok terakhirku ke asbak. Ibu mertuaku ternyata sudah sejak tadi beranjak dari duduknya. Lamunanku tentang peristiwa pernikahan ini, membuatku tidak memahami lingkungan sekitarku. Aku pun beranjak, mencari istriku di bilik sebelah, bersekat tripleks.

Istriku cantik sekali. Tercantik di dunia. Ia tampak sedang sibuk memberesi pakaian pengantinnya, bedaknya dan segala tetek bengek perlengkapan gaun pengantin. Bau parfum Drakkar Noir dari Calvin Klein masih tertinggal, di ujung hidungku. Tadi, seusai resepsi, kucium dia di tengkuknya. Jadi aroma parfumnya ikut juga. Memang, itu parfum cowok. Tapi mau bagaimana lagi? Adanya cuma itu. Aku membelinya di drugstore Bandara Juanda, Surabaya dua tahun lalu, sepulang dari Makassar.

Aku cium lagi tengkuknya. Ia tersenyum manja. Kebahagiaan terpancar di wajahnya. "Mau ngopi lagi, Mas?" tanyanya. Aku menggeleng, kudekap dia dari belakang, kemudian kita saling menempelkan pipi dan mematut-matut di depan cermin. Sepasang pengantin baru yang menikah diam-diam. Aku lihat matanya berbinar-binar. Ia bahagia.

Makna kebahagiaan bagiku hanyalah setetes warna yang lebih bersinar di antara warna-warna lain yang kusam. Setiap orang yang mampu meraih segala sesuatu yang diidam-idamkan, tentu merasa bahagia. Begitu pula aku. Seringkali aku merasa lelah mengembara dan ingin hidup layak seperti pada umumnya orang dengan menikah, berkeluarga, dan beranak pinak seperti yang disampaikan Allah kepada Nabi Ibrahim.

Dua minggu menjelang pernikahan, secara khusus memang aku memohon kepada kekuatan Yang Maha Dahsyat. Kekuatan paling purba, sebelum bumi dan tata surya ini tercipta. Di bawah pohon tua berumur ratusan tahun, di atas bukit kecil yang lembab, tepat tengah malam dan purnama penuh di angkasa, aku sampaikan permohonan keramatku itu. "Aku tidak butuh kekayaan, aku butuh istri dan sebuah keluarga," begitu doaku. Kun fayakun, terjadilah segala sesuatunya secepat kilat.

Pernikahanku juga berlangsung kilat. Memang, ketemunya sudah lama, dua tahun silam di acara pernikahan seorang artis dangdut top ibu kota. Belum ada getar-getar cinta kala itu. Pertemuan kedua terjadi di Jogja, di pinggir lapangan golf Hyatt Regency, Bogeys Teras. Biasa saja, semuanya berlangsung biasa. Cuma di tengah dentuman musik classic rock yang mengalun, dia mengatakan kepadaku setengah berbisik: "Kalau mau sama aku, harus serius…," katanya.

Langsung saja aku melamarnya malam itu juga. Ia pun mencium punggung tangan kananku. Resmilah kita mengikat janji. Sepuluh hari setelah malam "bertabur bintang" itu, terjadilah pernikahanku ini. Tanpa surat undangan dan wedding taart.

Perjalanan pernikahanku memang terkesan begitu indah. Tak ada cacat,
semua berjalan baik dan tenang. Ombaknya kecil, landai, dan bisa pasang layar sesuka hati. Langit biru tampak bersahabat di ujung cakrawala dan matahari bersinar ramah.

Kunikmati pernikahanku. Sedikit unik. Biasanya jok sebelah kemudiku selalu kosong. Paling, terisi dokumen pribadi dan beberapa bungkus rokok. Kini ada wanita cantik dengan rambut tergerai, tawa yang renyah dan sangat suka memakai aksen…gitu loh. "Liya gitu loh….," katanya menegaskan bahwa Liya beda dengan Lia.

Aku jadi mudah tertawa dibuatnya. Segala kata jadi berbunga-bunga, dan kita selalu mengurung diri di kamar berdua. Bercanda, berantem kecil-kecilan, saling merajuk dan tentu saja, bercinta.
"Aku pengin punya anak 9," kataku.
"Dua saja….Capek," jawabnya sambil menepuki perutnya.

Lalu kita berpelukan lagi. Seolah tidak ada cakrawala untuk luapan kegembiraan dan kebahagiaanku. Tidak ada yang membatasi. Tidak ada garis lurus yang memisahkan. Tidak seperti langit dan bumi yang dibelah di cakrawala. Segalanya serba los, bebas dan tak terbatas. Luar biasa. Aku selalu merindukan setiap menitnya.

Tawa ceria dan segala canda itu ternyata tidak berumur lama. Begitu cepat perginya. Sama cepatnya dengan proses pernikahanku. Kebahagiaan, agaknya, tidak pernah berpihak kepadaku. Segala sesuatunya berbalik 180 derajat. Sirna seketika. Berubah serba hitam. Galau. Gelap. Bergemuruh. Menghentak-hentak dan menyambar-nyambar. Setiap kata jadi bersayap-sayap. Salah paham muncul silih berganti. Kecemburuan, kecurigaan, dan pembicaraan-pembicaraan yang penuh teka-teki pun berebut mengganggu.

Salah ucap sedikit, menjelma jadi bara api. Berkilat-kilat. Aku sampai tidak sempat berdoa karena pikiranku tersita sepenuhnya untuk istriku. Kelakuannya berubah-ubah, sulit dipahami.
"Aku ingin sendiri," katanya pelan, tapi kurasakan seperti halilintar.
Menggelegar.
"Kita ini menikah, bukan pacaran. Ini Suro…harus serba hati-hati," kataku
mengingatkan.

"Hasyaahhhh….." Mukanya jadi cemberut dan bibirnya jadi tambah lancip.
Rambutnya yang dikucir bergoyang-goyang. Meski marah, kuakui, dia tetap saja menggemaskan.

Sambil menjentikkan abu rokok ke asbak, ia pun berargumentasi tentang pernak-pernik kegalauan perasaannya. Dari soal sepele sampai besar. "Aku tuh sukanya mobil-mobilan dan korek api, bukan bunga…Sabunku juga bukan yang itu, shamponya yang ini….." Mimik mukanya agak berkerut-kerut, ketika aku bawakan setangkai red rose yang dikemas plastik cantik.

Aku berusaha menyelami segala sesuatunya dengan hati-hati. Termasuk soal rumah, yang berkali-kali dilihat masih kurang cocok di hati. Kadang jengkel juga. Namun pernikahan tidak boleh terganggu dengan perasaan-perasaan yang tidak berguna seperti itu. Pernah aku berpikir kenapa harus begitu tergesa-gesa menikah?

"Aku sudah lelah dan jenuh dengan kehidupanku selama ini. Jadi aku
memutuskan untuk cepat menikah," katanya ketika itu.

Argumentasinya itu membuatku merasa menemukan wanita yang sudah matang. Masa lalu yang carut marut memang harus diakhiri ketika pernikahan terjadi. Ketika baju pengantin dikenakan dan akad nikah ditandatangani, maka masa lalu berakhirlah di situ. Pernikahan adalah sebuah lembaran baru yang serba bersih, sehingga kita bisa menuliskan apa pun di sana sesuka hati, tanpa harus dihantui lembaran-lembaran hitam masa lalu. Kisahnya harus dibuat sesuai tata nilai yang berlaku di masyarakat. Ditata seperti mengatur sebuah taman bunga. Agar segalanya serba semerbak dan mewangi. Sampai akhirnya lembaran pamungkasnya ditutup sendiri oleh Sang Khaliq. Pemilik hak atas seluruh hukum kehidupan. Ah, lumayan juga teoriku ini.

"Hanya kematian yang bisa memisahkan sepasang pengantin," kataku kepadanya. Ia tercenung beberapa jurus. Matanya yang indah terdiam beberapa saat. Lalu bola matanya berubah jadi abu-abu. Ia pun meledak-ledak lagi. Ada bau parfum yang berbeda dari tubuhnya, ketika ia berdiri sambil bersungut-sungut. Aku terhenyak. Berangkat kantor tadi pagi, memang ia sudah terlihat kusut. Tapi aku tidak memikirkannya terlalu dalam. Sewaktu turun mobil, ia hampir lupa mencium tanganku.

"Aku suamimu bukan?" tanyaku pelan, sambil kusodorkan tangan kananku.
Ia pun menciumnya. "Nanti dijemput jam berapa?" tanyaku lagi.
"Jam empat sore. Mundur satu jam," jawabnya, sambil bergegas turun.

Prahara itu pun dimulai. Bau parfum yang berbeda sepulang kantor, menjadi puncak dari seluruh masalah yang bertumpuk. Padahal sepulang kantor tadi kami sempat melihat sekali lagi rumah yang akan kami tempati.

"Besok aku mau naik bis kota saja. Nggak usah diantar jemput lagi," ujarnya sambil membanting tubuhnya ke kasur. Ia memunggungiku. Tampak jengkel.

Aku berharap keadaan itu hanya sementara saja. Seperti permasalahan-permasalahan kecil yang terjadi di hari-hari kemarin. Ternyata tidak. Besok-besoknya lagi, tetap sama. Terus-menerus begitu. Sehari dua hari. Seminggu dua minggu. Seluruh saluran komunikasi ditutup. Ia pun ganti nomor hand phone. Aku takut membayangkan kenyataan yang bisa membuatku bersedih.

"Ini hanya sementara…," katanya ketika aku nekat menemuinya, di siang yang terik. "Sementara…," itulah kata-kata yang aku jadikan pegangan. Meski berat dan dipenuhi ribuan teka-teki, aku berusaha meyakini janjinya itu.

Kehidupanku pun limbung. Aku kembali melangkah tanpa kepastian, tak ada teman selain rindu dan harapan. Keinginanku untuk menjalani kehidupan masa lalu kembali menggelegak lagi. Mengembara. Ya, mengembara. Akulah, pengembara itu!

Aku harus kembali berteman dengan alam, dengan orang-orang yang hidup
sederhana di ujung-ujung desa, di pegunungan dan di pinggir-pinggir pantai. Bertemu orang-orang yang tulus mencintaiku, menerimaku dengan tangan terbuka, tanpa rasa curiga, saling pengertian dan tidak mengkhianati. Aku merasa bahagia. Apalagi kalau mereka berduyun-duyun di belakangku, mengikutiku berdoa.

"Tapi ya Allah, apakah Engkau tidak mengizinkan aku memiliki sebuah keluarga, keturunan, dan generasi pewaris?" gumamku ketika aku datang lagi ke pohon besar di atas bukit yang lembab itu.

Selang beberapa saat, tiba-tiba melodi Songete mengalun dari hand phoneku. Debur ombak Laut Selatan hampir membuatku tidak mendengarnya. Ada SMS masuk, dadaku berdebar.

"Jeleeeeeeeeeeeeeek…where are u? Aku kangen tho sama Jelek. Ke sini tak buatin kopi…..!" begitu bunyi SMS-nya. Dari istriku.
Ah, ternyata itu SMS yang pending sejak empat minggu lalu. ***
READMORE